Kerajinan Kain Sisa Di Banjarmasin

0 158

Kerajinan Kain Sisa Di Banjarmasin

Kreativitas tak mengenal batas. Kain sisa pun dapat disulap menjadi karya. Ini dilakukan Elisa R Suryanah, penggagas terbentuknya Kriya Ketupat. Salah satu kelompok kerajinan tangan yang mencoba eksis di Banjarmasin.

Di sebuah rumah bernomor 69, RT 2 Sungai Baru, Banjarmasin Tengah, karya Kriya Ketupat dihasilkan. Elisa menjadikan lantai atas rumahnya sebagai ruang kerja.

Rumah kayu itu tampak klasik. Merupakan peninggalan orang tua yang belum lama meninggal dunia. Di bagian depan terdapat kedai kecil-kecilan. Tepat di kanan rumahnya ada tangga, menuju ke ruang kerja. Bentuknya luas memanjang.

Beberapa mesin jahit portable, kertas duplex, alat tulis dan gunting tampak tersusun di tepian lantai. Elisa menyambut dengan memperlihatkan beberapa karya. Pertama adalah kalung kreasi unik. Liontin bulat bermotif sasirangan. Warnanya pun beragam.

Dijual dengan harga Rp50 ribu, kalung itu laku keras. Bahan dasarnya kain perca sasirangan. Yakni potongan baju. Elisa memperolehnya dari para penjahit di Pasar Antasari. “Kurang lebih 60 kalung terjual dalam sebulan,” sebut perempuan kelahiran 14 Oktober 1981 itu.

Bagian tali dibuat memanjang, dengan lebar sekitar dua jari. Liontinnya dibuat dari bulatan kayu yang dilapis sasirangan. Dirangkai menggunakan kawat khusus agar menjuntai. Dalam sehari setidaknya 2 hingga 3 kalung terselesaikan. Selain itu, kain perca juga dimanfaatkan untuk membuat alas gelas.

Kriya Ketupat juga aktif memproduksi oblong sasirangan. Beraneka motif. Mulai dari yang paten hingga custom. Beberapa waktu lalu, Elisa membuat inovasi. Oblong sasirangan bermotif spiderman pun dibuat. Tujuannya agar semakin menarik minat anak-anak untuk membeli. “Kriya ketupat berani beda, contohnya lewat kreasi motif,” ucapnya.

Karya lain seperti bros, jilbab, gantungan kunci, tas hingga miniatur kapal kayu juga dibuat di situ. Elisa memasarkannya di showroom Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Banjarmasin. Pembelian secara online pun ia layani melalui Instagram @5_belas_sasirangan.

Tak hanya turis lokal, tamu mancanegara juga sering membeli produk Kriya Ketupat. Mereka kerap membeli oblong sasirangan dengan warna yang lembut. “Sedangkan orang lokal lebih suka warna yang tegas,” ujar Elisa.

Kriya Ketupat berawal dari ketidaksengajaan. Rumah Elisa berada tepat di samping Kampung Bermain Sungai Baru. Setiap sore selalu ramai didatangi anak-anak. Para ibu-ibu pun kerap ikut mendampingi. Mereka duduk santai di pelataran. Terbersit di benak Elisa untuk membuat perkumpulan itu lebih berarti.

Singkat cerita, terbentuklah Kriya Ketupat. Kelompok pengrajin di Kampung Ketupat. Hingga saat ini, Elisa punya 15 anggota. Terdiri dari sepuluh anggota tetap dan lima anggota lepasan. Dengan kisaran usia 35-55 tahun.

Source http://kalsel.prokal.co/ http://kalsel.prokal.co/read/news/16214-kriya-ketupat-sungai-baru-banjir-orderan-berdayakan-single-parent
Comments
Loading...