Kerajinan Kain Sutra Di Wajo

0 342

Kerajinan Kain Sutra Di Wajo

Pengusaha kain sutera, khususnya di Kabupaten Wajo tidak dapat berproduksi maksimal. Hal itu disebabkan, kurangnya bahan baku benang sutera.

Sedikitnya, 75 persen benang sutera harus diimpor dari negara China. Namun, harga benang sutera mengalami peningkatan drastis dari harga Rp300.000 per Kilogram (Kg) menjadi Rp1.030.000 per Kg.

“Pengrajin sutera saat ini terkendala dengan bahan baku. Harganya saat ini melejit. Untuk menutupinya, makanya dilakukan impor. Dan kami kombinasikan benang dari India dan China,” ujar Meyke N Sultan, Kepala Bidang Industri Tekstil, Elektronika-Telematika dan Aneka (ITETA).

Untuk mengatasi hal tersebut, kokon (kepompong ulat) telah hadir di Kota Makassar. Bakal, disuplay kepada para pengrajin. Jumlah bibit yang masuk tahap I, ada 300 box dengan harga per box senilai Rp400.000.“Benang yang akan dihasilkan dalam kurun waktu tiga minggu penetasan sebanyak 5 Kg. Dan hadirnya ini bisa menurunkan harga sutera,” ungkapnya.

Sementara, Ketua Asosiasi Perajin dan Pengusaha Tenun Sutra Wajo, Muhammad Kurnia Syam, mengatakan, tingginya harga benang sutra mengancam para petenun di Kabupaten Wajo. Sebab, kain sutra sangat sulit dipasarkan dengan harga yang terlalu tinggi. “Tunggu matinya saja. Industri sutra asli akan kolaps,” katanya.

Terlebih lagi permintaan pasar saat ini cukup besar. Kapasitas produksi sutera asli di Wajo mencapai 2 juta meter per tahunnya. Sehingga, penenun di Wajo membutuhkan minimal 8 ton per bulan untuk mencapai kapasitas produksi.
“Namun, hal tersebut sudah tidak dapat dicapai karena tingginya harga benang sutra impor saat ini,” ujarnya.

Pihaknya menambahkan, untuk bertahan hidup, para pelaku industri sutra saat ini mengantisipasi dengan menggunakan benang polyester atau biasa dikenal dengan benang India. Namun, kualitasnya sangat berbeda, sebab benang tersebut bukan sutera asli. “Kalau untuk memenuhi pasar menggunakan polyester, kapasitas produksi sutra bisa dipenuhi. Tapi itu bukan sutra,” paparnya.

Kurnia mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel harus lebih gesit dalam memperhatikan pelaku industri sutera. Sebab naiknya harga benang impor sangat menghambat produksi. Apalagi, di Wajo terdapat 5.000 unit pengusaha kecil yang mengoperasikan alat tenun bukan alat mesin. “Kita biasa menyuplai kain putih sutera untuk kebutuhan batik untuk daerah Jawa, namun terhambat juga karena penjualan sangat tinggi disebabkan benangnya,” sebut Kurnia.

Sementara, Kepala Dinas Perindustrian Sulsel, Ahmadi Akil, saat dikonfirmasi mengatakan, usaha sutera asli akan membooming lagi. Hal tersebut disebabkan permintaan pasar yang cukup besar. Terlebih lagi dengan Kementerian Kehutanan telah membuka ruang untuk impor kokon dari luar negeri 2018 mendatang.

“Masyarakat sudah dapat bertani murbei, sehingga Industri Kecil Menengan (IKM) kita tetap kembali eksis untuk memproduksi sutera asli,” jelasnya.

Ahmadi menambahkan, untuk menangkap kemampuan daya beli masyarakat untuk kebutuhan sutera dapat diantisipasi dengan menggunakan polyester. Apalagi, daya beli masyarakat berbeda-beda, sehingga masyarakat tetap dapat menjangkau produksi sutra asli meskipun harganya cukup tinggi

Source https://fajar.co.id https://fajar.co.id/2017/10/25/harga-kain-sutra-melejit-bahan-bakunya-kurang/
Comments
Loading...