Kerajinan Kain Tapis Di Lampung Selatan

0 232

Kerajinan Kain Tapis Di Lampung Selatan

Keberadaan kain-kain dengan motif tapis dan inuh, bagi masyarakat tradisional Lampung masih menjadi kebutuhan yang penting untuk beragam kegiatan upacara adat dan acara kebesaran. Bahkan, kini kain tersebut telah menjadi kain yang digunakan untuk seragam Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Daerah Lampung. Keberadaan kain tenun tapis dan inuh di wilayah Lampung dengan bahan dan proses pembuatan dengan sistem kait dan kunci, hingga kini masih juga ditekuni oleh sebagian pengrajin kain tradisional. Salah-satunya, Yuhanna, warga Desa Palembapang, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan.
Sebelum mengetahui proses pembuatan tenun tapis, Yuhanna menjelaskan terlebih dahulu keberadaan masyarakat Lampung yang memiliki dua kelompok masyarakat adat, yaitu masyarakat Lampung beradat Pepadun dan beradat Saibatin. Setiap adat memiliki kerajinan tenun sebagai ciri khasnya, meski secara umum sebagian masyarakat menyebut semua kain asal dan buatan pengrajin Lampung disebut kain tapis. Padahal, dalam penyebutan, perbedaan akan terlihat dengan ciri khas, jika orang Pepadun menggunakan kain tapis, sementara orang Saibatin menggunakan kain kapal dan kain inuh dalam aktifitas adatnya.
Secara khusus, Yuhanna yang melakukan pembuatan tenun inuh sejak tahun 1987, mengungkapkan, kain inuh merupakan kain khas masyarakat pesisir yang tinggal di kawasan dekat pantai. Ragam hiasnya dipenuhi hiasan gelombang, makluk-makluk air seperti teripang, tunas, sulur, daun, dan kapal serta beberapa motif gajah. Ragam hias tersebut menyimbolkan kesuburan dan geneologis. Sementara, makhluk air kecil dalam tubuhnya menyimbolkan dari generasi baru yang akan lahir dan pucuk daun dengan untaian ekor menggambarkan penyebaran benih kehidupan baru.
 
Proses pembuatan yang rumit membuat kain ini sudah jarang ditemui, meski pihak Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Lampung Selatan sempat menghidupkan kembali proses pembuatan tenun inuh tersebut. Yuhanna merupakan salah-satu pemilik kerajinan kain tenun inuh yang sekaligus ikut melestarikan, memberdayakan kaum perempuan di desanya untuk menekuni pembuatan tenun inuh.
Kekhasan kain tapis dengan menggunakan bahan khusus, bahkan sebagian menggunakan benang emas serta pembuatan yang rumit dan lama, membuat kain inuh cukup menarik dan hanya digunakan sebagai bagian upacara adat. Tenunan berliku-liku yang menghiasi keliman, terkesan mewah membuat kain ini hanya dipergunakan untuk kegiatan khusus, meski saat ini pola-polanya ditiru dengan sistem cetak untuk pembuatan kain dengan motif yang sama dan bisa diproduksi massal, di antaranya untuk pembuatan seragam. Motif-motif tapis dan inuh yang umum di antaranya kapal, pohon dan stik figur, kini banyak ditemukan dalam bentuk kain yang dijual di beberapa toko kain yang membuatnya dengan proses menggunakan mesin.
Sementara itu, kain inuh buatan Yuhanna merupakan kain yang diproduksi dengan cara tradisional, menggunakan tangan dengan cara mempekerjakan kaum perempuan di desa yang sehari-hari bekerja sebagai petani dan pekebun. Proses pembuatan dengan cara tradisional dikerjakan kaum perempuan pada saat senggang dan di luar masa panen, karena proses pembuatan tapis dan kain inuh harus telaten.
Ia menerangkan, pembuatan kain tapis yang sederhana membutuhkan waktu sekitar dua bulan, dengan menggunakan bahan kain dan benang beragam warna dengan dominasi warna keemasan. Proses pembuatan yang rumit mengakibatkan harga jual kain tapis atau inuh menjadi mahal, sekitar Rp.750 Ribu hingga Rp. 4 Juta. Dari harga tersebut, kaum perempuan pembuat kain tapis bisa memperoleh upah sekitar Rp. 500 Ribu untuk tapis yang memiliki harga jual di atas Rp. 2 Juta per lembar. Sementara pernak-pernik lain seperti selendang, kopiah dan dompet bisa dijual dengan harga Rp. 200 Ribu hingga Rp. 1 Juta.
Source https://www.cendananews.com https://www.cendananews.com/2016/12/yuhanna-dedikasikan-hidup-lestarikan-tapis-di-lampung-selatan.html
Comments
Loading...