Kerajinan Kain Tenun Gringsing Di Jembrana, Bali

0 308

Kerajinan Kain Tenun Gringsing Di Jembrana, Bali

Di tengah persaingan ekonomi global, para perajin kain tenun di Jembrana berjuang untuk tetap eksis dan tidak tenggelam ditelan modernisasi. Sejumlah perajin yang merupakan bagian dari Usaha Kecil Menengah (UKM) ini sejatinya memiliki kekhasan produk. Mulai dari motif, bahan hingga hasil ketekunan dan menenun.

Selain di Kelurahan Sangkaragung yang menjadi sentra tenun, kerajinan ini juga berkembang di desa-desa sekitar seperti Batuagung, Dauhwaru dan Mendoyo Dauh Tukad. Tradisi menenun dengan alat tenun dari kayu masih eksis.

Seperti yang digeluti Gusti Ayu Putu Sutamiarti, warga Tegalasih, Kecamatan Jembrana. Ibu rumah tangga mengungkapkan dengan kondisi perekonomian seperti saat ini usaha menenun agak tertatih- tatih.

Ibarat pepatah mati tak enak hidup tak segan. Harga bahan baku utamanya benang sebagai bahan utama kain tenun harganya terus merangkak naik. ”Ya sekedar bisa bertahan saja,” terangnya.

Untuk bahan baku kain tenun khususnya jenis benang, Sutamiarti mengaku membeli dari agen. Untuk Satu gulung (atukel) harganya Rp 6.000. Bila dalam satu kain tenun itu memerlukan 12 gulung (12 tukel) akan lebih banyak lagi modalnya. “Untuk satu kain tenun memang memerlukan banyak benang, sesuai motif yang diciptakan. Biasanya kami membuat kain tenun sesuai dengan pesanan,” tambahnya.

Jika motif kainnya bervariasi, lebih banyak membutuhkan benang. Pada umumnya para pembeli kebanyakan memesan kain tenun jenis songket. Kendati terseok-seok, tenun masih memiliki keistimewaan dan berbeda. Hal inilah yang menjadi keunggulan produk UKM ini dibandingkan dengan cetak.

Menenun dengan alat manual memerlukan proses waktu lama daripada mesin cetak. Sehingga produk tenun yang dihasilan pasti berbeda. Selain itu pengerjaan secara manual bisa menghasilkan berbagai motif yang bervariasi, bisa diciptakan sendiri dan tidak ada duanya. Sementara cetak motifnya rata-rata banyak yang sama. “Yang terpenting adalah ketekunan dan keseriusan. Saya menenun sejak mulai usia remaja dan awalnya merupakan hobi. Orang tua (ibu) juga menekuni pekerjaan menenun sampai sekarang,” tambahnya.

Kain Tenun Gringsing

Dahulu beredar rumor di masyarakat Bali kalau warna merah yang unik yang terdapat pada kain tenun Gringsing itu berasal atau dibuat dari darah manusia, namun belakangan diketahui kalau cerita itu sengaja dibuat agar kain tenun Gringsing tidak ditiru oleh penenun dari daerah lain. Warna kain tenun gringsing semuanya berasal dari bahan pewarna alami.

Tenun Gringsing terbuat dari benang kapas yang ditenun menggunakan tehnik double ikat, yaitu tehnik dengan mengikatkan benang lungsi dan benang pakan secara bersamaan. Tehnik ini dikenal sangat langka, karena akan membutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkan satu lembar kain, berkisar antara 1-5 tahun. Di Asia hanya Jepang dan India yang masih menerapkan tehnik tenun ganda ini. Hingga tidak aneh jika kain tenun Gringsing ini memiliki harga yang sangat mahal.

Source http://www.balipost.com http://www.balipost.com/news/2018/02/17/37840/Tenun-Cagcag-Hadapi-Pasar-Global...html
Comments
Loading...