Kerajinan Kain Tenun Khas Pulau Flores

0 113

Kerajinan Kain Tenun Khas Pulau Flores

Selain kopi dan madu hutan, buah tangan lainnya yang bisa diboyong pulang oleh para wisatawan yang datang berkunjung ke Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah kain tenun ikat. Kerajinan tangan ini merupakan salah satu barang yang bisa dibawa sepulang dari Pulau Flores karena tidak bergantung pada musim, seperti kopi atau madu hutan.

Di Sikka, kabupaten di bagian tengah Pulau Flores, kain tenun ikat bisa ditemukan di Pasar Murah Alok setiap hari Selasa, di Kota Maumere, NTT. Kumpulan ibu-ibu yang kebanyakan berasal dari Desa Sikka di Kecamatan Lela atau Desa Nita di Kecamatan Neta ini berkumpul dan menjual hasil karya tangan mereka.

“Saya datang dari kampung Nita. Kami berjualan di kampung ini setiap hari Selasa. Namanya pasar murah di Pasar Alok. Penjualannya kalau di sini lumayan, banyak turis-turis atau orang dari luar kota datang,” kata Mama Gen, salah satu penjual tenun ikat di Pasar Murah Alok

Ada banyak pilihan tenun ikat di pasar ini, mulai dari selendang dengan ukuran lebar sekitar 15 centimeter (cm) hingga sarung dengan berbagai motif. Mama Gen tampak ramah menyambut tiap orang yang melewati lapaknya di Pasar Alok pagi ini. Seekali dia tersenyum sambil berkata, “Mau pilih yang mana Kak kainnya?”

Semua upaya tampak dilakukan oleh para ‘Mama’, sebutan bagi ibu-ibu yang menjual kain tenun ikat di sini. Namun, mereka mengeluhkan soal pemasaran kain tenun ikat yang dirasa sulit untuk dilakukan. Selendang berwarna biru dipadu cokelat berukuran lebar 15 cm Mama Gen misalnya. Dia mengatakan selendang tersebut belum juga dibeli sejak dibuat tiga bulan lalu.

“Sulit memasarkannya. Makanya kami rela datang jauh-jauh ke sini untuk jual. Biasanya banyak orang dari luar kota belanja kain tenun di sini,” katanya.

Jangankan untuk ekspor, bahkan menjual di dalam kota pun Mama Gen mengaku sulit. Meski memiliki nilai budaya, kain tenun ikat nyatanya hanya banyak diminati oleh kalangan turis asing. Selain Mama Gen, ada juga Mama Lusia yang mengaku sudah berjualan kain tenun ikat ini sejak tahun 2002. Hingga sekarang, dia belum mengekspor satu pun jenis kain tenun ikat yang dia buat.

“Sulit sekali. Kami tidak tahu caranya bagaimana. Kami memang diberi pelatihan unntuk membuat kain tenun ikat ini oleh pemerintah selama tiga hari, tapi kami tidak diberi tahu bagaimana cara menjualnya supaya bisa berhasil,” tuturnya.

Source https://kumparan.com https://kumparan.com/@kumparanbisnis/sulitnya-perajin-pasarkan-kain-tenun-ikat-khas-ntt-1533295225512257754
Comments
Loading...