Kerajinan Kalung Akrilik Di Bandung

0 121

Kerajinan Kalung Akrilik Di Bandung

Para perajin mulai melirik akrilik sebagai bahan bandul kalung dan kerajinan lainnya. Warna yang tak cepat pudar dan bobot ringan menjadi kelebihan bahan akrilik. Namun, tren kalung akrilik bisa cepat memudar, bila perajin tak kreatif mengembangkan desain.

Akrilik adalah lembaran plastik super keras. Warnanya yang tak cepat pudar serta bobotnya yang ringan menjadi keunggulan akrilik hingga menjadi bahan baku barang kerajinan.

Padahal, biasanya akrilik hanya dimanfaatkan sebagai pelapis mebel. Namun, kini, mulai banyak perajin yang menyulapnya menjadi aneka pernak-pernik cantik, seperti kalung dan bunga.

Bahan baku yang sederhana dan proses pembuatan yang mudah plus sentuhan kreatif, membuat bisnis kerajinan akrilik sangat menggiurkan. Contoh, Fajar Nugraha, perajin akrilik asal Bandung yang mulai melirik usaha kerajinan ini sejak pertengahan 2009.

Awalnya, Fajar memang tak membuat kalung akrilik. Bersama dengan rekan kampusnya, pada Desember 2008, ia membikin kalung hama beads atau kalung yang terbuat dari biji-biji plastik warna-warni.

Setelah pasar kalung hama beads tidak lagi bergairah, mereka pun berpaling ke bandul kalung dari kulit imitasi. Juga tak bertahan lama, pertengahan 2009, Fajar berpaling ke akrilik. “Awalnya, kami hanya ingin mencoba materi lain sebagai bahan kalung,” tuturnya.

Fajar mendapatkan bahan akrilik dari toko besi. Setiap lembaran akrilik berukuran 90×180 cm dengan ketebalan 2 mm dibelinya seharga Rp 200.000. Sedangkan, tebal 3 mm Rp 350.000. Ia lebih memilih lembaran akrilik supaya bisa diberi beraneka kelir.

Pembuatan bandul kalung dari akrilik terbilang mudah. Fajar menggunakan program Corel Draw untuk membuat desain. Kemudian, motif gambar itu dipres di atas lembaran akrilik. “Lalu, di-mixing dengan laser cut machine menjadi potongan-potongan,” katanya.

Kira-kira, butuh waktu tiga sampai empat menit setiap kali mencetak motif di mesin potong laser. Untuk motif yang rumit, seperti red lace, bisa memakan waktu 10 hingga 12 menit.

Ketika potongan akrilik sudah jadi, Fajar mewarnainya memakai cat semprot. Supaya model terlihat tiga dimensi, ia pun mengombinasikan potongan tadi dengan potongan lain.

Sebuah model bisa terdiri dari tujuh warna potongan akrilik. Beberapa bentuk itu, seperti black cat, red queen, nazy skull, dan big orange cheetah. Pembuatan sebuah kalung akrilik membutuhkan waktu setengah sampai satu jam. Jika bandul sudah selesai, tinggal dikaitkan ke rantai besi yang berfungsi mengalungi leher.

Dalam sehari, Fajar bersama enam rekannya memproduksi 30 hingga 40 kalung. “Harga kalung tergantung dari desain dan lamanya pembuatan di mesin laser. Beda satu menit saja, bisa berpengaruh pada harga kalung hingga dua kali lipat,” ungkap Fajar.

Pasalnya, sewa mesin laser dihitung setiap menit. Tarif sewa per menit mencapai Rp 6.000. Fajar pun bilang, patokan harga sewa ini terbilang murah. Sebab, banyak penyewaan mesin laser mematok harga Rp 10.000 hingga Rp 12.000 per menit.

Fajar hanya menjual kalung-kalung akrilik melalui jejaring sosial Facebook dan perkawanan di kampus. Dari jalur distribusi itu, ia dapat melego 500 kalung akrilik setiap bulannya. Bahkan, dia pernah menjual 900 kalung dalam satu bulan.

Dari bisnis ini, Fajar mengantongi omzet rata-rata Rp 15 juta per bulan. “Kebanyakan pembeli berasal dari Jakarta. Tapi, juga ada pembeli dari Bandung, Medan, Samarinda, dan Aceh,” kata mahasiswa Universitas Widyatama ini.

Seorang pembeli dapat memesan puluhan kalung. Fajar menduga pembeli borongan itu menjual lagi kalung buatannya.

Fajar melihat, bisnis kalung akrilik adalah bisnis musiman. Pembuat tidak bisa berharap penjualannya dapat terus hidup berbulan-bulan.

Untuk itu, perajin harus pandai mengembangkan desain. “Inovasi model menjadi kuncinya. Misal, kalung akrilik glow in the dark,” tutur Fajar.

Yuni, pemilik Flica Collection, yang juga menjual aneka kalung akrilik, membanderol produknya dengan harga Rp 25.000 hingga Rp 35.000. Ia tak memproduksi bandul akrilik sendiri, hanya sering melakukan modifikasi, seperti mengaitkan rantai kalung yang panjang sehingga memiliki fungsi ganda sebagai ikat pinggang.

Meskipun hanya mengandalkan sistem penjualan online, Yuni meraup omzet lumayan. Setiap bulan, ia bisa mengantongi Rp 15 juta. “Hampir seluruh pembeli adalah wanita umur 15 sampai 35 tahun,” ujarnya.

Lain halnya dengan Suswidiantoro, pemilik Nabila Akrilik dari Malang. Lelaki yang akrab disapa Widi ini memproduksi aneka bunga tangkai dan bonsai berbahan dasar akrilik, serta menggunakan pita kawat, kayu, dan semen untuk cor pot. Bahan-bahan sederhana itu lalu disulapnya menjadi karya seni bernilai tinggi.

Dalam sehari, Widi mampu membikin hingga tiga rangkaian bunga dengan hraga bervariasi. Untuk bunga tangkai dibanderol Rp 10.000 per tangkai. Untuk bonsai dengan tinggi 70 cm diberi label harga dengan kisaran Rp 450.000. “Omzet per hari antara Rp 1 juta hingga Rp 3 juta,” ujarnya.
Widi mempunyai empat gerai untuk memasarkan produknya yang semuanya ada di Batu, Malang. Selain itu, ia juga mendistribusikan produknya ke Bali, Bandung, dan Manado.

Meskipun bisnis akrilik memiliki prospek bagus, belum banyak orang yang berminat menekuninya dengan memproduksi sendiri. Sebab, kerajinan ini membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan kreativitas yang tinggi. Sehingga, mayoritas orang memilih menjadi reseller atau penjual saja.

Source https://nabilamegaoktaviani.wordpress.com https://nabilamegaoktaviani.wordpress.com/2015/05/page/2/
Comments
Loading...