Kerajinan Kasab Di Aceh Singkil

0 263

Kerajinan Kasab Di Aceh Singkil

Jari-jari tangan tua perlahan bergerak di atas kain merah. Telaten melukis, agar menghasilkan ukiran yang indah. Sesekali berhenti memperhatikan hasil rajutan. Lalu, tangan memegang jarum rajut, mengayun meng­ukir sulam indah diatas kain merah itu. Itulah Tenun Kasap, yang sedang disele­saikan oleh Nur Yasin, warga Desa Kuala Baru, Aceh Singkil. Kuala Baru adalah desa pengrajin tenun di Aceh Singkil. Letaknya sekitar satu jam perjalanan dengan perahu bermotor dari Pasar Singkil, pusat Kota Syech­ Abdurauf Al-Singkili itu. Masyarakat menyebut angkutan itu dengan nama Robin, diambil dari nama mesin motor penggerak untuk jalur transportasi di sana. Menuju Kuala Baru, harga sewa satu unit Robin sebesar Rp 20.000.

Masyarakat di sana selama ini menggantungkan hidup dari hasil tangkapan ikan. Umumnya, kaum adam bekerja sebagai nelayan. Setahun lalu industri kerajinan kecil ini, mulai menggeliat lagi, saat Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Kabupaten Aceh Singkil menggagas pendirian pengurus kecamatan organisasi tersebut. Disinilah awal terorganisirnya kerajinan nenek moyang yang telah turun temurun itu. Sebelumnya, hanya sebatas kerajinan tradisional semata.

Nur Yasin menyebutkan, usaha yang ditekuninya saat ini sedikit membantu ekonomi keluarga. Terlebih sepanjang akhir tahun lalu, hasil tangkapan ikan sangat sedikit. Badai membuat para nelayan enggan melaut. “Jarang sekali nelayan di sini punya boat besar, rata-rata pakai boat tradisional seperti robin itu,” ujarnya.

Awalnya Nur Yasin bersama puluhan pengrajin lainnya bergabung dalam Usaha Kecil Menengah (UKM) Wanita Kuala Baru. UKM itu didirikan bersama IWAPI setempat. Saat itu, mereka mengumpulkan dana patungan untuk membeli alat pembuatan kasab seperti; benang, hiasan mote, kain beludru, jarum dan manik-manik. Mereka kemudian mendirikan usaha di rumah masing-masing.

Nur Yasin mengeluh soal sedikitnya lembaga yang memperhatikan usaha leluhur mereka itu. Itu dibenarkan oleh Asra, Ketua IWAPI daerah tersebut. Bahkan, organisasi yang menaungi 113 pengrajin tenun dan sulaman kasap tradisional itu pernah mengirimkan proposal permohonan modal usaha ke Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) Aceh-Nias, Juli tahun lalu. Hasilnya nihil. Tidak mendapat jawaban dari lembaga yang bertanggungjawab atas pemulihan Aceh pascatsunami.

Source http://dimas-sambo.blogspot.co.id http://dimas-sambo.blogspot.co.id/2012/06/mengintip-kerajinan-kasab-aceh-singkil.html
Comments
Loading...