Kerajinan Kasur Kapuk Di Dusun Karangsari

0 129

Kerajinan Kasur Kapuk Di Dusun Karangsari

Perlahan namun pasti, peran kasur kapuk dalam rumah tangga mulai digantikan alas tidur modern, seperti kasur busa dan kasur pegas. Tersisihnya kasur kapuk secara otomatis telah menggusur para pengrajin yang hidup dari produk tersebut.

Di Kecamatan Pangandaran, Herwati, seorang nenek 63 tahun, menyebut satu-satunya pembuat kasur kapuk yang tersisa di wilayah tersebut. Mengingat pekerjaannya yang langka ini, SwaraPangandaran.Com tertarik menggali kiprah sang Nenek.

Dijumpai di kediaman sekaligus tempat kerjanya di Dusun Karangsari, Desa Pananjung, Kecamatan Pangandaran, beberapa waktu lalu, Herwati menceritakan kisah hidupnya serta perkembangan industri rumahan kasur kapuk di Pangandaran.

Herwati bercerita, sudah lebih dari 30 tahun lamanya ia menekuni pekerjaan sebagai pembuat kasur kapuk. Selama itu Pula, menurut Herwati, ia selalu membuat kasur kapuk seorang diri, tanpa ada pekerja yang membantu.

“Awalnya belajar ke Yayu (kakak Perempuan) sekitar umur 30 tahunan, habis nikah. Kakak perempuan saya dulu tukang jahit baju, kasur dan bantal. Setelah Yayu meninggal, saya meneruskan bikin kasur kapuk,” ujar Herwati.

Herwati mengenang, pas tahun 1980-an, kasur kapuk di Pangandaran bukan hanya dipakai oleh keluarga di rumah, tapi juga oleh penyedia jasa penginapan. Bahkan, kata dia, hingga saat ini, masih ada penginapan-penginapan kecil yang tetap memesan kasur kapuk padanya.

Sejak tahun 1996, Herwati mempunyai pelanggan tetap yang ia sebut Bos Muslih. Oleh sang Bos, Herwari diminta membuat kasur sebanyak-banyaknya, sedangkan pemasarannya ditangani sang Bos. Tahun-tahun tersebut dikenang Herwati sebagai puncak kejayaannya.

Saat itu pula, ia memiliki sebuah warung nasi di Pantai Timur Pangandaran, sebagai bisnis sampingan. Sayang, kedainya itu hancur terkena tsunami pada 2006. Ia pun memilih tak lagi melanjutkan usaha warung nasinya dan lebih memilih kembali sepenuhnya menjadi pembuat kasur kapuk.

Sejak, 2010, ia bercerita, ada lagi seorang pelanggan yang rutin memesan dalam jumlah banyak. Bos yang ia sebut Haji Emping itulah yang kini memasarkan  kasur kapuk buatannya. Kata Herwati, di Pasar Pangandaran, yang menjual kasur bikinannya hanya dua toko.

“Nggak tahu oleh Bos dipasarkan kemana lagi, tapi katanya dipasarkan ke Parigi, ” tuturnya.

Dalam sebulan, Herwati menyebut mampu membuat 40 buah kasur, yang ia kerjakan sendiri. Sementara kalau membuat bantal tidur, Herwati menyebut sebulan bisa mencapai sebanyak 200 buah.

Ia bersyukur, meski di pasaran banyak kasur-kasur modern, ia tak pernah kekurangan pesanan. Dalam sebulan, menurut Herwati, paling sedikit ia menerima pesanan sebanyak enam buah kasur kapuk.

Herwati menyampaikan, untuk membuat satu kasur ukuran sedang, 120 cm x 200 cm, diperlukan 12 kilogram kapuk. Sedangkan harga satu kilogram kapuk sendiri, senilai Rp 25 ribu, yang ia pesan dari Semarang, Indramayu atau Cirebon.

Herwati becerita, tahun 1980-an harga kapuknya masih Rp 5 ribu per kilogram, sementara harga kasur Rp 200 ribu per unit. Sekarang, kata dia, harga kasur ukuran sedang buatannya Rp 500 ribu per unit.

Sedangkan untuk harga bantal kapuk, Herwati membanderol  harga mulai Rp 40 ribu hingga Rp 70 ribu. Kadang, katanya, ada yang pesen bantal panjang yang dapat dipaki oleh dua orang. Ia menyebutnya ‘Bantal Cinta’.

Seiring perkembangan jaman, menurut Herwati, beberapa aspek dalam pembuatan kasur kapuk juga berubah. Katanya, jaman dulu, kain kasur yang digunakan adalah Kain lurik yang disebut dames. Kemudian, kata Herwati, kain diganti motif corak kembang atau kartun yang harganya lebih murah. Padahal, kata dia, Kain dames lebih lembut dan nyaman dipakai.

Tiap satu kasur, Herwati menyebut menerima penghasilan bersih sebesar Rp 75 hingga 100 ribu. Dalam sebulan, ia mengakui hanya mendapat rata-rata Rp 1 juta.

Meski usianya beranjak senja, Herwati masih terlihat bersemangat memasukkan kapuk-kapuk ke dalam kain. Ia membuat kasur tanpa peralatan, hanya dengan tangan atau manual. Sedari dulu, Herwati mengaku tak pernah memakai alat bantu, seperti masker untuk menjaga pernapasannya.

Sejak dulu, dalam pikirannya, ia hanya ingin bekerja membantu suami dan melihat anak-anaknya semua lulus sekolah. Suami Herwati sendiri meninggal tahun 2012.

Sering, ia merasa lelah karena sejak dahulu hanya dikerjakan sendiri. Meski sudah ada beberapa yang ia ajari membuat kasur kapuk, namun hingga kini belum ada yang bisa dan mau mewarisi keterampilannya membuat kasur kapuk.

“Harapan saya, pengen masih bekerja sendiri tidak ingin merepotkan anak, malah kalau bisa pengen ngasih ke anak materi yang lebih,” ungkapnya.

Source https://swarapangandaran.com https://swarapangandaran.com/menengok-herwati-nenek-pembuat-kasur-kapuk/
Comments
Loading...