Kerajinan Kasur Kapuk Di Panengahan

0 171

Kerajinan Kasur Kapuk Di Panengahan

Kasur atau alas tidur berbahan kapuk, masih diminati masyarakat, meski saat ini alas tidur berbahan matras dan busa sudah mulai umum digunakan. Salah-satu perajin tradisional kasur, bantal dan guling berbahan kapuk di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Ahmad Soleh dan istri, Dewi Sudiro mengatakan, jumlah permintaan kasur berbahan kapuk masing sangat tinggi.

Ahmad memulai usaha pembuatan kasur di Desa Palas Bangunan, Kecamatan Palas, sejak 2003 dan kemudian pindah ke Desa Pasuruan di tempat strategis di Jalan Lintas Sumatera KM 68, Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, yang berada di perlintasan jalan nasional dan penghubung kota-kota di Sumatera. “Saya sudah beberapa kali pindah tempat tinggal, sekaligus mencari lokasi strategis untuk usaha dan mudah memperoleh bahan baku untuk pembuatan kasur kapuk dan perlengkapan tidur lain berbahan baku kapuk, dan kini sudah menetap di Penengahan dan berada di tepi jalan lintas, ”ungkap Ahmad, saat ditemui Cendana News di rumahnya yang sekaligus difungsikan sebagai tempat pembuatan berbagai jenis kasur dan bantal berbahan kapuk. Ahmad Soleh mulai menekuni usaha pembuatan kasur kapuk sejak 1997 di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Ketrampilannya itu didapatkan dari sang ayah, Saji, yang mewariskan cara pembuatan kasur kapuk kepada ketiga anaknya, dan salah-satunya Ahamd Soleh, yang kini merantau di Lampung dan menekuni pembuatan kasur, bantal dan guling berbahan kapuk.

Proses pembuatan kasur, bantal dan guling, diakuinya terbilang sederhana. Bahan baku kapuk yang sudah dipisahkan dari kulit dan sudah kering dimasukkan dalam kain yang sudah disiapkan sebelumnya sesuai ukuran. Ahmad mendatangkan bahan baku kapuk dari sejulmah kecamatan di Lampung Selatan, dan sebagian lagi didatangkan dari Kabupaten Tanggamus, Lampung, dengan harga Rp. 6.000 per kilogram, dengan kondisi masih ada biji dan hati (bonggol kapuk). Sementara untuk kapuk bersih tanpa biji dan hati dibeli seharga Rp 20.000 per kilogram.

Kapuk yang masih ada biji yang dikirim dari wilayah Kecamatan Talangpadang, Kabupaten Tanggamus, bisa mencapai 1 ton untuk kebutuhan 1 bulan, sehingga kebutuhan selama 1 tahun mencapai 12 ton, bahkan bisa mencapai 14 ton per bulan. Menurut Ahmad, pasokan kapuk tersedia banyak pada saat musim kapuk di bulan Oktober-Desember, dan harganya lebih murah. Sementara di luar musimnya, kapuk akan berharga mahal, bahkan bisa mencapai Rp. 8.000 per kilogram.

Ahmad yang akrab disapa Mad Kasur, menjelaskan, dalam proses pembuatannya, penyortiran kapuk dari hati dan biji dikerjakan oleh dua karyawan. Lalu, proses mengisi kapuk ke dalam kain yang sebelumnya telah diukur sesuai kebutuhan, dilakukan olehnya dibantu sang istri. Proses pengisian kasur sepanjang 130 centi meter, membutuhkan waktu sekitar 2 jam, sedangkan untuk ukuran 100 centi meter membutuhkan waktu sekitar 1 jam, dan untuk bantal dan guling  dengan ukuran 44 centi meter dalam sehari bisa mengisi sebanyak 50 buah.

Source https://www.cendananews.com https://www.cendananews.com/2017/02/perajin-kasur-kapuk-di-lampung-beromzet-puluhan-juta-rupiah.html
Comments
Loading...