Kerajinan Kayu Olahan Di Pontianak

0 145

Kerajinan Kayu Olahan Di Pontianak

Kalimantan Barat pernah dikenal sebagai salah satu pusat industri kayu olahan. Tidak hanya perusahaan raksasa yang hidup dari kayu, industri kecil-kecilan pun menjamur di sejumlah wilayah ini.

Akan tetapi, seiring menyempitnya luas hutan, sektor ini pun semakin sepi peminat. Hanya beberapa orang yang bertahan dengan hasil seadanya. Salah satunya adalah warga di Desa Teluk Dalam Wajok Hilir, Kecamatan Siantan, Kabupaten Pontianak.

Siang hari itu matahari berada di tengah cakrawala mengingatkan sudah waktunya istirahat. Namun di sebuah pondok yang tak jauh dari Jalan Raya Pontianak ini, sepasang suami istri Marsidin, 70, dan Fatimah, 70, masih saja sibuk membuat peti buah berbentuk kubus dengan panjang sisi-sisinya setengah meter.

“Hari ini harus dapat seratus peti, sudah ada yang pesan. Besok pagi akan dikirim,” kata Marsidin, di Desa Teluk Dalam  Wajok Hilir, Senin 25 Juni 2012.

Membuat peti buah adalah pekerjaan sehari-hari Marsidin dan Fatimah. Mereka tidak punya tanah untuk bertani dan tak memiliki ijazah untuk melamar kerja di pabrik atau perkebunan. Karena itu, meski sudah berusia lanjut, pekerjaan yang cukup berat ini pun mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Kami masih kuat, tidak perlu merepotkan anak-anak,” kata Fatimah.

Fatimah mengatakan, penghasilan dari membuat peti itu tidak terlalu besar, namun bagi mereka sudah cukup lumayan. “Satu petinya kami jual Rp500. Tidak tahu agen jual ke pembeli berapa,” katanya.

Rata-rata dalam satu hari pasangan ini bisa membuat 100 peti, tergantung bahan baku dan kesehatan badan. Bila sedang tidak lancar, paling hanya 25 peti. Bisa dihitung, pendapatan mereka berdua sekitar Rp50 ribu sehari.

Peti-peti ini kebanyakan dikirim ke Kabupaten Sambas untuk mengemas buah jeruk yang menjadi andalan daerah itu. Namun mereka juga memasok peti-peti itu ke daerah lain yang membutuhkan. “Kebanyakan yang pesan adalah agen buah,” kata Fatimah.

Soal biaya produksi, dia mengatakan tak terlalu mahal. Kayu-kayu yang mereka gunakan berkualitas rendah, sisa-sisa pabrik pengolahan kayu di dekat Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya.

Meski murah, tidak mudah bagi mereka mendapat pasokan sisa kayu dari perusahaan tersebut. “Kayu sekarang semakin langka,” katanya.

Marsidin dan Fatimah hanya bagian kecil dari masyarakat di Desa Teluk Dalam yang bergelut dengan kayu-kayu limbah. Beberapa bergerak dengan modal sendiri, sementara yang lainnya menjadi pekerja di usaha orang lain.

Source https://www.viva.co.id https://www.viva.co.id/arsip/329569-geliat-pengrajin-kayu-olahan-di-kalbar
Comments
Loading...