Kerajinan Kece Cangkang Kerang Di Bantul

0 303

Kerajinan Kece Cangkang Kerang Di Bantul

Kuswo Hadi Saputro, terlihat sibuk merangkai beberapa cangkang kerang yang ia untai dengan beberapa utas kawat di serambi rumahnya yang sederhana. Putrinya pun masih tampak sibuk membuat bros bunga yang dibuat dari cangkang. Kegiatan tersebut, merupakan usaha yang dilakukan Kuswo untuk memenuhi permintaan barang kerajinan kece, yang dijual hingga pantai Parangtritis Bantul.

Warga Ngepung, Kemadang, Tanjungsari ini, mengatakan bahwa kerajinan kece yang dihasilkan oleh puluhan warga lainnya, saat ini terkendala bahan baku dan juga  pemasaran. Meski, daerahnya sangat dekat dengan wilayah pantai di pesisir selatan Gunungkidul, namun persoalan wilayah pemasaran, masih dirasakannya.

“Karena, wilayah pemasaran terbatas, kami juga berjualan ke Parangtritis, setiap seminggu sekali, Baron juga sudah penuh dengan perajin, maka kami beralih ke Pantai Krakal,” ungkapnya kepada Tribun Jogja.

Usaha yang ditekuninya hingga sekitar 20 tahunan, ini telah menjadi gantungan pundi-pundi keuangannya. Bermacam motif Bunga kerang, bulus atau penyu, gantungan kunci, korden, dan kalung, menjadi salah satu hasil kreatifitasnya. Ironisnya lagi,  meski wilayahnya dekat dengan wilayah pantai, selama kurang lebih 15 tahun, banyak perajin “mengimpor” bahan baku berupa cangkang kerang, dari Situbondo Jawa Timur dan juga Cilacap.

“Ya memang, tidak ada bahannya, selama 15 tahun, dan cangkang kerang justru lebih bagus dari Situbondo, maka kami ambil,” katanya sambil mengelem bagian kepala penyu hasil kreatifitasnya. Bahkan, ia menilai cangkang yang ada di Gunungkidul, jauh kurang bagus. Hal itulah yang menarik perajin lainnya untuk mendatangkan bahan baku “impor” tersebut.

Menurut Kuswo, persaingan yang ketat diantara perajin, membuatnya harus mampu berinovasi. Hingga kini, ia mampu membuat Bros bunga kerang berbagai motif,  Kura-kura dari paduan tempurung kelapa dan kerang.”Saya selalu membuat yang banyak diminati saja, soalnya saya jauh-jauh ke Parangtritis menyetor produk, biar tidak mubazir,” jelasnya.

Untuk omzet, Kuswo menambahkan perminggunya ia mendapatkan Rp 400 ribu. Hanya saja, saat lebaran kemarin, sulitnya pemasaran dirasakan menjadi satu kendala baginya. Omzet lebaran pun menurun, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. “Namanya orang kecil, saya tetap mengusahakan pemasaran sebisa saya,” ungkap bapak dua putra ini.

Perhatian dari pemerintah, menurutnya masih kurang. Ia menyebutkan bahwa, para pengrajin telah dijanjikan alat tetapi tidak segera diberikan. Namun, para pengrajin tetap melakukan kegiatan produksi semaksimal mereka. Dari hasil tersebut, Kuswo bisa menyekolahkan kedua putrinya hingga tamat SMA. “Kalau untuk kuliah ga bisa mas, kurang duitnya,” pungkasnya sambil tersenyum.

Source http://jateng.tribunnews.com http://jateng.tribunnews.com/2011/09/13/perajin-kece-kesulitan-bahan-baku-dan-pemasaran
Comments
Loading...