Kerajinan Kendang Di Banten

0 218

Kerajinan Kendang Di Banten

Pohon nangka diyakini sebagai material yang pas untuk dijadikan sebuah alat musik tradisional, termasuk kendang atau gendang Sunda. Sayangnya sejauh ini pohon tersebut hanya dibudidayakan untuk dipanen buahnya saja.
Salah seorang pengrajin kendang asal Kota Banten. Edi Rohmana mengaku kesulitan mendapat bahan baku. Berbeda dengan 15 tahun lalu, dikala dia memulai usahanya, pohon nangka masih mudah ditemukan. Tak perlu pergi ke perkampungan bahkan di Kota Bandung sekalipun masih banyak ditanam.
“Sekarang terpaksa harus datang ke hutan-hutan, atau pergi ke pelabuhan seperti ke daerah Banten. Itu juga belum tentu di sana ada,” ujar Edi.
Memang kayu pohon mangga pun bisa dijadikan alternatif sebagai bahan baku kendang. Namun secara kualitas masih jauh di bawah pohon nangka. Selain tahan lama, pohon nangka juga bisa menjadikan suara kendang lebih mantap. Karena itu, dia ogah merubah bahan baku.
“Daripada menurunkan kualitas lebih baik saya capek pergi ke daerah-daerah lain. Bahkan sampai berhari-hari juga enggak apa-apa untuk mendapatkan bahan yang berkualitas,” imbuhnya.
Kulit yang digunakan juga kini sulit didapat. Edi biasa menggunakan kulit kerbau agar ketika ditabuh suaranya terdengar renyah. Menurutnya, kini kebanyakan pengrajin kendang menggunakan kulit uyah atau kulit garam.  Harganya memang lebih murah, namun secara kualitas tidak memadai. Sebab, kulit uyah adalah kulit sapi, dari sisa pabrik kerupuk kulit. Sementara untuk pembuatan kendang yang bagus harus menggunakan kulit kerbau betina, karena memiliki tingkat kelunturan yang khas.
Edi membandrol produk kendangnya dari kisaran Rp. 2,5 juta hingga Rp. 4,5 juta. Sementara yang terbuat dari kayu pohon mangga hanya Rp. 1,5 juta.  Dia menyayangkan, alat musik tradisional dewasa ini seolah tak lagi memiliki pesona di mata masyarakat. Memang pembeli selalu ada, hanya saja cukup banyak konsumen yang menawar dengan harga yang tidak logis.
Padahal selain susah mendapat bahan baku, pembuatan kendang juga memerlukan tenaga dan ketekunan yang ekstra. Sebab pembuatanya hanya mengandalkan keahlian dari sang pengrajian, alias bukan menggunakan mesin.
“Kayunya juga kita harus diamkan minimal setengah tahun biar benar-benar solid. Makanya dalam satu bulan kita hanya bisa produksi 20 set.  Bisa sih lebih banyak, tapi nanti suaranya tidak maksimal,” bebernya.
Source https://www.cendananews.com https://www.cendananews.com/2016/05/pengrajin-kendang-sunda-sulit-dapatkan-bahan-baku.html
Comments
Loading...