Kerajinan Kendang Di Ciamis

0 177

Kerajinan Kendang Di Ciamis

Wawan Hernawan alias Bah Ewon, dikenal sebagai satu-satunya pengrajin kendang di Kabupaten Ciamis. Namun siapa sangka, jika kepiawaan Bah Ewon membuat kendang diwali oleh pengalaman bathin yang menyedihkan.

Kendang bukan hal yang asing bagi Ewon. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan bentuk kendang. Almarhum ayahnya Suyitno, pada tahun 1954 merupakan penabuh kendang terkenal di Ciamis. Bah Ewon sering melihat ayahnya merawat kendang dan menabuh. Bah Ewon pun kemudian tertarik untuk mengikuti jejak ayahnya.

Namun, selepas ayahnya pergi, kendang peninggalan ayah sudah termakan usia (rusak). Sementara Bah Ewon ingin meneruskan jejak ayah menjadi penabuh kendang nayaga dan pengibing silat.

“Waktu saya ingin belajar nabuh kendang, kendangnya rusak, gak punya kendang. Mau beli, uangnya gak punya. Dari situlah awalnya, saya ngulik sendiri, dan mencoba membuat kendang sendiri, ” kata Bah Ewon, saat ditemui di rumahnya, di Kampung Rumki gang Pejuang RT. 3/RW.3 Kelurahan Cigembor, Ciamis.

Bermodal alat seadanya, tatah, geregaji dan serutan kayu, Ewon pun mencoba membuat kendang dengan bahan kayu nangka yang dibelinya dari tetangga sebelah.

“Ada kayu nangka sisa di tetangga saya beli. Saya coba tiru kendang yang sudah rusak. Lalu beli bahan kulit sapi dan kerbau, ke tempat kulit bedug di dekat pasar, dari situ saya memulai pengalaman membuat kendang, ” kata Ewon.

Selain untuk keperluan sendiri, ternyata Bah Ewon pun mendapat pesanan membuat kendang dari beberapa paguron silat, dan sekolah. Akhirnya mendapat julukan baru, selain sebagai penabuh kendang meneruskan ayahnya, juga sebagai pembuat kendang yang merupakan bakat alami nya. Seiring berjalannya waktu, pesanan tak pernah berhenti dalam setiap bulannya. Meski tak banyak, hanya satu sampai tiga set kendang (indung kendang, dan katipung/kulanter), yang pesan ke Bah Ewon.

“Umumnya yang pesan ke saya guru kesenian sekolah. Tapi pernah juga saya membuat kendang untuk pesanan orang bule dari spanyol tiga set,” kata abah.

Untuk kendang yang standard, memasang tarif Rp1,5 juta. Kendang dengan kualitas baik dijual dengan harga kisaran Rp3 juta. Kendang buatan bah Ewon pun, menjadi salah satu yang diusulkan mendapatkan Hak Paten.

Dari satu sisi bah Ewon bangga karyanya diusulkan mendapatkan hak cipta, namun di sisi lain, Ewon khawatir, banyak pesanan yang masuk yang tidak terpenuhi lantaran keterbatasan modal.

“Memang nggak banyak, yang pesen, tapi kan untuk produksi satu set saja butuh waktu satu minggu kerja, dengan alat sederhana yang saya punya, ” kata Ewon.

Di kalangan sekolah, Bah Ewon sudah cukup terkenal. Selain pesanan membuat kendang, Bah Ewon pun, mulai kebanjiran permintaan dari beberapa sekolah untuk melatih rampak kendang.

Untuk memenuhi permintaan, diapun berbagi tugas dengan anak cikalnya Danu. Putera pertama Bah Ewon ini, memang sudah tertular memiliki kepiawaan menabuh kendang.Danu biasa dipanggil beberapa grup pongdut sebagai penabuh kendang.

Rupanya, kendang menjadi barang yang berharga bagi keluarga Bah Ewon dan keturunannya. Tradisi yang terus terwaris dan diwariskan, dalam garis keturunan keluarga.

Source http://fokusjabar.com http://fokusjabar.com/2014/05/05/bah-ewon-menjadi-perajin-kendang-karena-pengalaman-batin/
Comments
Loading...