Kerajinan Kendang Di Kulonprogo

0 230

Kerajinan Kendang Di Kulonprogo

Pengalaman adalah guru paling berharga, demikian bunyi peribahasa. Beraneka pengalaman yang dijalani manusia secara pasti juga akan mengasah keterampilan dan kesetiaannya.

Peribahasa di atas kiranya sesuai untuk menggambarkan sosok Parmo atau yang biasa disapa sebagai Mbah Mo. Hingga usia menginjak senja, warga Pedukuhan Grawulan, desa Giripeni, Wates, Kulonprogo ini tetap setia menekuni pekerjaannya sebagai pembuat dan tukang reparasi kendang, alat musik tradisional tersebut. Bengkel seninya saat ini bahkan terbilang yang paling tua di Kulonprogo. Hal ini tentunya menjadi buah pengalamannya setelah puluhan tahun bergelut dengan alat musik tradisional Jawa tersebut.

Pria itu menuruni ketrampilan membuat kendhang dari sang ayah, Sastrodihardjo alias Sastro Ripiblik. Sastro sudah dikenal sebagai pembuat kendang andal di Kulonprogo pada era 1970-an. Sejak muda, Parmo sudah acapkali membantu ayahnya membikin alat musik pukul tersebut.

Dari semula hanya membantu memasang tali janget (pengatur nada kendhang), lama kelamaan dia mulai merambah keahlian membikin tebokan (kulit tabuh), selongsong tubuh kendang, dan lainnya. Kepiawaiannya pun semakin terasah hingga dia bisa nyetem (atur nada) dan membuat seperangkat gamelan lengkap.

Tak seperti bapaknya yang punya usaha jual beli perangkat gamelan, kini Parmo memang hanya menerima pesanan terbatas untuk pembuatan dan reparasi kendang. hal ini sesuai minat dan keahlian yang paling dikuasainya. Pun juga tenaganya tak sanggup jika harus membikin perangkat lengkap gamelan sementara dia tak mempekerjakan tenaga lain.

Pelanggannya saat ini datang dari berbagai wilayah di Kulonprogo, Sleman, Purworejo bahkan ada juga pelanggan dari Pekan Baru, Riau. Umumnya para pelanggan tersebut mengenal dirinya melalui getok tular. Untuk pesanan pembuatan kendang, menurutnya terbilang sepi, hanya berkisar 3 pesanan dalam sebulan. Sementara untuk order perbaikan kendhang sedikitnya dia bisa menerima sebanyak 7 unit yang bisa diselesaikan dalam waktu sekitar 4 hari.

Tarif yang dikenakan menyesuaikan permintaan pelanggan atau tingkat kerusakan. Tarif reparasi berkisar antara Rp 180 ribu hingga Rp 450 ribu sementara tarif bikin kendang minimal Rp 450 ribu hingga Rp2 jutaan, tergantung ukuran dan kualitas bahannya.

“Kendhang paling besar yan pernah saya bikin itu diameternya sekitar 46 cm. Kalau soal bahan baku, yang bagus itu kayu nangka. Resonansinya tinggi jadi suaranya nyaring dan tebel,” imbuhnya.

Diakuinya, saat ini makin sedikit pengrajin kendang yang masihbertahan di Kulonprogo. Setahunya, pengrajin kendang dan perangkat gamelan yang masih bertahan hanya dirinya dan satu pengrajin di pedukuhan sebelah di Giripeni. Padahal, pada masa 1970-an hingga jelang 2000-an, di Kulonprogo ada beberapa pengrajin kendang kawakan yang masih bertahan. Antara lain di Pengasih, Wates, dan Lendah. Namun, karena tidak ada penerusnya, usaha tersebut lama-lama menghilang hingga hanya menyisakan bengkel seninya tersebut.

Source http://jogja.tribunnews.com http://jogja.tribunnews.com/2014/01/16/mbah-mo-masih-setia-kelola-bengkel-kendang-tertua-di-kulonprogo
Comments
Loading...