Kerajinan Kendang Di Sukoharjo Laris Hingga Ke Inggris

0 224

Kerajinan Kendang Di Sukoharjo Laris Hingga Ke Inggris

Tak jauh dari bantaran Sungai Bengawan Solo, beraneka kendang dihasilkan tangan-tangan terampil. Berbagai macam kayu seperti mahoni, nangka, dan trembesi dipilih sebagai bahan utama untuk membuatnya. Aneka kendang itu tercipta dari besutan seorang maestro alat musik Jawa, Maman Hadi Darmanto, warga Dusun Jatiteken, Desa Laban, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Dari karya-karyanya, usaha perajin kendang ini masih terus eksis meski peralatan musik ala digital bermunculan saat ini. Kenekatannya mendirikan usaha kerajinan kendang diperoleh dari keterampilannya saat menjadi pekerja kerajinan kendang sepuluh tahun silam.

Tak hanya itu, jiwa seorang seniman reog Ponorogo juga menunjang kesuksesan Maman dalam berkarya. “Dahulu saya seorang seniman reog ponorogo. Kemudian saya banting haluan mencoba keberuntungan menjadi sopir angkutan tujuan Sumatera, Jawa, dan Bali tetapi hasilnya belum mencukupi kebutuhan keluarga,” ujar Maman. Maman kemudian mencoba keberuntungan membuat aneka piranti kebutuhan reog untuk wilayah Solo dan Jogja. Lagi-lagi pria tiga putra itu kurang beruntung karena prospek penjualan piranti reog ponorogo di dua wilayah ini kurang bagus.

Setelah tak membuat piranti reog ponorogo, Maman bekerja sebagai tukang pembuat kendang di salah satu pengusaha gamelan. Setelah empat tahun bekerja, akhirnya di tahun 2012 ia memutuskan untuk mandiri. Dengan modal yang tak seberapa Maman memberanikan diri menginvestasikan hasil tabungannya untuk membeli beberapa kayu. Sebelum dirakit dengan potongan kulit sapi, Maman menunjukkan badan kendang yang sudah selesai diproduksi.

Semua dilakukan dengan tenaga tangan sehingga membutuhkan waktu lama untuk membuat sebuah kendang. Tak lama berselang, kendang pertama buatannya laku dengan harga Rp 600.000. Semangat pun makin bertambah. Bersama buah hatinya, ia terus mengembangkan usaha pembuatan kendang meski butuh perjuangan yang tak mudah. Dari modal seadanya, di tahun kedua ia mampu membeli alat mesin bubut, dinamo, dan beberapa mesin penunjang lainnya. Dibantu empat pekerjanya, dalam sehari kini ia bisa menghasilkan puluhan kendang dalam berbagai ukuran kecil, sedang, dan besar.

Menurut Maman, rangkaian pembuatan satu kendang berkualitas membutuhkan waktu satu bulan. Waktu terlama dalam proses pengeringan kayu untuk badan kendang karena tidak bisa dilakukan instan. “Proses pengeringan tidak bisa instan. Kalau dioven pecah. Dipanaskan terus-menerus juga bisa pecah. Untuk itu sistem pengeringannya perlahan-lahan dengan dipanaskan di matahari, paling lama setengah hari bila sehari panas. Kemudian esoknya dipanaskan lagi,” kata Maman. Pasca kayu mengering, pekerja Maman tinggal merakit badan kendang dengan potongan kulit sapi yang sudah disiapkan.

Proses perakitan dan penyetelan kendang paling lama menghabiskan tiga jam. “Makanya kami menyetok badan kendang yang sudah kering dalam jumlah yang banyak. Jadi kalau ada orang yang memesan kami tinggal merakit dengan potongan kulit sapi,” tandas Maman. Untuk membuat badan kendang, ia menggunakan mesin khusus agar bisa melubangi kayu. Pasalnya bila dilakukan secara manual akan memakan waktu lama. “Kalau melubangi dengan mesin dua jam selesai,” kata Maman. Aneka kayu dipotong sesuai ukuran sebelum dilubangi sebagai badan kendang.

Source https://regional.kompas.com https://regional.kompas.com/read/2018/03/19/10193651/kisah-seniman-reog-ponorogo-kembangkan-kendang-hingga-inggris?page=all
Comments
Loading...