Kerajinan Kepompong Di Denpasar

0 263

Kerajinan Kepompong Di Denpasar

Sempat terpuruk dan vakum hingga beberapa tahun, Putu Suandewi kini bertekad menghidupkan kembali usaha kerajinan berbahan baku kepompong ulat sebagai bahan baku membuat tas dan dompet, jepit rambut, hiasan sanggul, serta beragam aksesoris lainnya.

Usaha kerajinan yang menggunakan kepompong ini, sudah dirintis Suandewi sejak Mei 2006 di kawasan Jalan Pulau Misol-Denpasar. Modal awal yang disiapkan sebesar Rp 500 ribu. Modal ini digunakan untuk membeli kepompong dan lem, mengingat kerajinan ini memang tidak menggunakan peralatan yang lain.

Rangkaian bunga ini terlihat elegan meski dibuat dari limbah kepompong ulat.

“Ada kisah unik, mengapa saya menggeluti usaha ini. Dulu, saya bertemu dengan Julian dari Prancis. Julian membawakan saya beberapa kepompong yang masih utuh, belum diapa-apakan. Julian lantas meminta agar saya mempelajari dulu cara pembuatan kerajinan, yang bahan bakunya menggunakan bahan kepompong. Nanti kalau sudah bisa, Julian akan memesan,” ujar wanita kelahiran Singaraja.

Suandewi yang dasarnya suka membuat kerajinan, menjadi tertarik mendengar tawaran itu dan langsung mempelajari dengan semangat. Membuat kerajinan, memang bukan hal aneh bagi Suandewi. Sejak sekolah di SMP dan SMA, Suandewi sudah biasa menciptakan produk kerajinan dan menjualnya. Semasa kuliah di Yogyakarta pun, dia rajin membuat kerajinan dan dititip jual kepada sejumlah toko.

“Makanya saya antusias ketika ada tawaran membuat kerajinan dari Julian. Ketika sudah bisa membuat berbagai macam bunga dari kepompong, eh saya baru menyadari kalau Julian tidak ada kabar berita lagi,” ucapnya.

Namun, Suandewi tidak berkecil hati. Dia justru menganggapnya kehadiran Julian merupakan petunjuk dari Tuhan agar dirinya menekuni kerajinan dari kepompong. Maka mulailah Suandewi membuat berbagai kreasi dari kepompong, yang dijual kepada beberapa kenalannya. Kreasi dari kepompong itu ternyata diminati, sehingga Suandewi membuat lebih banyak lagi kerajinan dan getol pula mempromosikannya.

“Saat ini sudah tersedia cincin, berbagai macam jepit rambut, bros, hiasan sanggul, atau giwang. Saya pun bereksperimen menciptakan dompet atau clutch dari kepompong. Bahan baku kepompong dipesan dari Jawa Tengah dan Makassar,” ujarnya.

Harga kerajinan ini mulai paling murah Rp 10 ribu untuk berbagai jenis cincin. Sedangkan produk termahal berupa clutch yang harganya bisa mencapai Rp 300 ribu. Dulu ketika sedang ‘booming’, maka omzet kerajinan kepompong ini bisa mencapai Rp 30 juta per bulan.

Source https://bisnisukm.com https://bisnisukm.com/sempat-mati-suri-suandari-bangkitkan-lagi-usaha-kerajinan-kepompong.html
Comments
Loading...