Kerajinan Keris Di Banyusumurup

0 182

Citra Banyusumurup sebagai daerah penghasil keris sudah dikenal sejak tiga abad silam. Keturunan empu Tomorejo generasi ke 5, Djiwo Diharjo, masih aktif membuat keris pusaka. Beliau adalah satu-satunya pembuat keris pusaka di Banyusumurup. Pada 1982, Sri Sultan HB IX menganugerahkan gelar Empu padanya, namanya pun berganti Empu Sarjono Supo.

Desa Banyusumurup, Imogiri, Bantul Yogyakarta memproduksi warangka atau sarung keris dan pendok atau bagian tangkai keris yang berfungsi sebagai pegangan. Wilayah ini bisa dijangkau dengan berjalan lurus ke selatan dari perempatan Terminal Giwangan dan kemudian mengambil lajur kanan setelah sampai di pertigaan menuju makam Imogiri.

Proses Pembuatan Kerajinan Keris

Lempengan kuningan sebagai bahan baku terlebih dahulu dibuat bentukan sarung keris kemudian dipatri. Selanjutnya, untuk membantu proses penatahan, sarung keris yang masih polos dilekatkan pada permukaan alas yang terbuat dari aspal. Proses penatahan pun dimulai sesuai motif yang ingin dibuat. Pengrajin menuturkan  biasanya warangka didominasi dengan gambaran bunga-bunga.

Selesai ditatah, warangka kemudian memasuki tahap finishing. Pada tahap ini, warangka yang telah ditatah dipertegas bentuknya dengan menggunakan batang besi. Agar warna lebih cerah, warangka dipoles dengan larutan yang bersifat asam. Dahulu, banyak pengrajin menggunakan air jeruk untuk mencerahkan warna, namun kini lebih banyak pengrajin yang menggunakan larutan HCl sebab lebih praktis.

Source Sentra Kerajinan Keris Di Banyusumurup SENTRA KERAJINAN KERIS "BANYUSUMURUP" IMOGIRI, BANTUL, YOGYAKARTA
Comments
Loading...