Kerajinan Kertas Bekas Karya Mahasiswa UGM

0 98

Kerajinan Kertas Bekas Karya Mahasiswa UGM

Awalnya Novi tidak melangkah sendirian. Bersama tiga rekannya dari Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada dia membangun Dluwang Art. Hanya bermodal awal sekitar Rp 500 ribu, Novi memulai dari awal menciptakan produk dari koran perdananya, yaitu tas. Di tangan ketiga anak kreatif ini, koran lusuh menjadi tas yang cantik dan modis.

“Kita mahasiswa iseng bikin usaha. Modalnya dulu itu dari mengumpulkan uang, kecil¬†kok, hanya sekitar Rp 500 ribuan. Kan hanya bermodal tabloid, majalah, atau koran bekas yang dilinting, kemudian ditenun,” ungkap perempuan asli Yogyakarta itu.

Tas hasil kerajinan tangan itu ternyata mendapatkan respon positif dari teman-teman di lingkungan kampusnya. Hal inilah yang menjadi pemicu Novi dan teman-temannya berencana memproduksinya secara besar, bahkan ditambah dengan produk lain seperti sandal.

Kini, Dluwang Art telah memproduksi beberapa jenis produk yang harganya sangat terjangkau. Sandal, harganya dipatok hanya Rp 20.000, tas harganya dari Rp 35.000 hingga Rp 55.000, suvenir pernikahan harganya bervariasi dari Rp 1.000 hingga Rp 20.000, produk miniatur harganya dari Rp 50.000 hingga Rp 105.000.


Tidak hanya cantik dan unik, kerajinan tangan ini pun juga cukup awet jika digunakan dengan baik.

“Prinsipnya kan koran, meski sudah diberi lapisan tahan air, tetapi rentan juga. Intinya produk-produk ini digunakan untuk di dalam ruangan. Pembeli ada yang bilang tahan 6 bulan, tetapi ada juga yang testimoni tahan bisa 2 tahun. Yang jelas ini produk untuk dipakai di dalam rumah,” jelasnya.

Untuk mengerjakan pesanan, yang sewaktu-waktu bisa sangat membludak, kini Novi mempekerjakan 2 pengrajin di rumahnya. Namun, begitu mendapatkan pesanan dalam jumlah yang sangat besar, dirinya meminta bantuan sekitar 30 pengrajin di sekitar Sleman.

“Sekarang pekerja di rumah ada 2 orang, yang lepas ada sekitar 30 orang pengrajin di sekitar Sleman,” ujar mahasiswi UGM angkatan 2007 itu.

Novi mengaku sangat bersyukur karena bisa memberdayakan masyarakat sekitar untuk berbisnis. Dia pun mengaku banyak belajar dari para pengrajin untuk menciptakan produk kerajinan tangan yang menarik.

“Ini kita sama-sama belajar karena mereka kan memang pengrajin, jadi sudah tahu cara menenun, jadi tidak perlu diajarkan lagi. Hanya saja biasanya kan buat kerajinan dari lidi, sekarang lintingan koran,” ujarnya.

Source https://m.dream.co.id/ https://m.dream.co.id/news/dluwang-art-mendulang-untung-dari-lintingan-koran-bekas-150902c/dari-kertas-bekas-jadi-barang-nan-cantik-flr.html
Comments
Loading...