Kerajinan Khas Buddis Di Banten

0 310

Kerajinan Khas Buddis Di Banten

Rika Lenawati perempuan asal Tangerang, Banten, tersebut menjelaskan, tsa-tsa atau arca adalah kerajinan khas Buddhis. Kerajinan tradisi itu berasal dari wilayah pegunungan Himalaya di Tibet Di Indonesia, pembuatan tsa-tsa Buddha dikerjakan di studio yang tak jauh dari kantor Dharma Center Kadam Choeling Indonesia di kawasan Jalan Bijaksana, Bandung. Studio itu khusus memproduksi arca Buddha Sakyamuni.

Menurut Rika, Buddha Sakyamuni adalah sosok Buddha yang paling universal. Sebab, sosoknya paling dikenal umat Buddha, mulai penganut tradisi Tibet, Thailand, maupun India. Dalam tradisinya, tsa-tsa Buddha kemudian dibagi-bagikan kepada masyarakat. Bukan hanya umat Buddha, namun juga masyarakat umum, pemeluk agama lain.

Lalu, apa sebenarnya misi pembagian tsa-tsa Buddha itu? Menurut Rika, pembagian tsa-tsa tersebut tidak dimaksudkan untuk memengaruhi orang (non-Buddha) agar masuk agama Buddha. Tapi, semata-mata untuk berbagi kebajikan.

Bagi pemeluk non-Buddha, kata dia, tsa-tsa Buddha bisa menjadi hiasan seni di rumah. Sebab, dalam arti luas, tsa-tsa sebenarnya tidak terbatas pada pembuatan patung Buddha, melainkan juga bisa dimaknai sebagai sebuah tradisi membuat karya seni rupa.

Tsa-tsa dibagi-bagikan ketika yayasan menggelar event tertentu. Misalnya, saat perayaan Waisak atau bakti sosial yang lain. Di luar itu, tsa-tsa dibagikan untuk khusus komunitas pemeluk Buddha. Contohnya, untuk biara dan pelajar beragama Buddha.

Rika menuturkan, banyak umat non-Buddha yang merasa senang mendapat tsa-tsa. Bahkan ada yang meminta di studionya. Selain bernilai seni, tsa-tsa merupakan bentuk toleransi antarumat beragama. Aktivitas bagi-bagi tsa-tsa itu dilakukan sejak 2006. Ide pembagian tsa-tsa tersebut diprakarsai Biksu Bhadaruci, pembina Yayasan Wilwatikta Sriphala Nusantara sekaligus sekretaris jenderal Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI).

Menurut Rika, awalnya sang guru (Biksu Bhadaruci) ingin menebar kebajikan kepada siapa saja dengan membagikan tsa-tsa Buddha. Sudah lebih dari 100 ribu tsa-tsa dibagikan kepada masyarakat di Jawa, Sumatera, dan Bali. Untuk membuat tsa-tsa Buddha, kata Rika, si perajin harus mempunyai niat yang tulus lebih dahulu bahwa dia bekerja untuk kebajikan. Dia juga mesti memohon kepada guru agar memberkati motivasi baik tersebut. Semakin banyak tsa-tsa yang dihasilkan, semakin banyak kebajikan yang ditebar.

”Sebagian besar pembuat tsa-tsa di studio ini adalah mahasiswa. Setelah mereka lulus, biasanya mereka dapat pekerjaan yang bagus. Nah, itu salah satu bentuk manfaat kebajikan mereka membuat tsa-tsa,” ujar sarjana Teknik Industri Universitas Indonesia (UI) itu.

Selain tsa-tsa berbentuk sosok Buddha Sakyamuni, para perajin membuat stupa yang diyakini sebagai simbol batin Buddha. Dalam stupa itu terselip gulungan mantra (doa) dan bentuk tsa-tsa Buddha Amitayus. Buddha Amitayus adalah Buddha pemberi umur panjang bagi manusia.

Namun, arca stupa itu tidak dibagikan secara gratis kepada masyarakat umum. Stupa tersebut akan diletakkan di biara milik yayasan yang saat ini masih dalam pembangunan. Biara tersebut berada di Desa Sumberoto, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Biara itu nanti menjadi pusat pendidikan calon biarawan (biksu) untuk anak-anak remaja.

Sebanyak 100 ribu tsa-tsa stupa akan diletakkan di lingkungan biara itu. Namun, sampai sekarang baru selesai 50.175 buah. ”Pembuatan stupa ini juga untuk kebajikan supaya guru kami, Guru Dagpo Rinpoche, bisa berumur panjang,” ujar Rika.

Rika sudah mengabdi di Yayasan Wilwatikta Sriphala Nusantara selama empat tahun. Sebelumnya, dia sibuk dengan pekerjaannya di Jakarta. Dia sempat bekerja di beberapa perusahaan sebagai purchasing staff dan management development program (MDP). Namun, hal itu tidak membuatnya bahagia. Dia lalu memutuskan untuk berhenti sebagai karyawan dan mencurahkan waktunya untuk aktif di yayasan Buddha tersebut.

”Begitu bergabung di yayasan ini, saya menemukan jati diri saya. Bagi saya, bahagia itu bukan soal kaya harta,” tegas perempuan kelahiran 21 April 1985 itu. Dengan mengajar di Dharma Center dan mengurusi kegiatan yayasan, Rika merasa waktunya lebih banyak bermanfaat untuk orang lain.

Penanggung jawab studio tsa-tsa Yansen Jaya Pranata mengaku tidak mendapat upah atas pekerjaannya di studio tsa-tsa itu. ”Ya, memang untuk tujuan sosial saja. Kami ingin menebar kebaikan lewat tsa-tsa Buddha ini. Itu saja, nggak berharap lebih,” ujarnya.

Yansen adalah mahasiswa semester akhir Universitas Kristen Maranatha, Bandung. Bersama 24 temannya, dia bergiliran membuat tsa-tsa hampir setiap hari. Dalam sehari ada tiga sif perajin yang bertugas membuat tsa-tsa. Dengan cara itu, pekerjaan sosial di studio tersebut tidak sampai mengganggu aktivitas kuliah. ”Karena niatnya berbuat kebajikan, ya mau tidak mau kita harus ikhlas mengerjakannya,” tandas Yansen.

Source http://jabarekspres.com http://jabarekspres.com/2016/yang-bikin-mahasiswa-yang-terima-siapa-saja/
Comments
Loading...