Kerajinan Klompen Di Pasuruan

0 252

Kerajinan Klompen Di Pasuruan

Di tengah membanjirnya produk modern, kerajinan tradisional sandal kayu atau yang dikenal dengan sebutan klompen di Kabupaten Pasuruan, masih bertahan. Meski produksi terus menurun, namun sejumlah pengrajin masih berusaha ‘bernafas’.

Salah satu desa yang dikenal sentra kerajinan klompen yakni Desa/Kecamatan Pohjentrek. Desa ini sudah dikenal sebagai pusat kerajian klompen selama puluhan tahun. Setiap hari para pengrajin sibuk mengola aneka jenis kayu seperti kayu pohon asam, pohon waru, randu dan lainnya.

Kayu yang dipilih sengaja memiliki berat yang ringan namun kuat. Kayu-kayu tersebut dipotong-potong dalam ukuran tertentu kemudian dibentuk menjadi sandal berbagai ukuran dengan gergaji mesin.


Ramli, salah satu pengrajin klompen mengatakan belasan tahun silam hampir separuh warga desa setempat bekerja di kerajinan tradisional ini baik sebagai pemilik usaha maupun karyawan. Namun saat ini jumlahnya berkurang dan hanya beberapa saja yang bertahan.“Permintaan terus menurun, jadinya ya pembuat klompen banyak yang berhenti,” kata Ramli di sela kesibukannya membuat sandal-sandal dari kayu.

Ramli memahami kondisi tersebut karena masyarakat lebih memilih sandal-sandal modern berbahan karet, plastik atau kulit. Selain lebih peka mode juga lebih praktis. “Hanya kalangan tertentu saja yang masih suka pakai klompen,” ungkapnya.

Segmen tertentu yang disebutkan Ramli yakni dunia pesantren dan orang-orang tertentu yang masih menghargai produk tersebut. Saat ini, selain memenuhi permintaan pedagang, para pengrajin klompen menerima pesanan dari pondok pesantren baik di wilayah Pasuruan maupun luar kota seperti Jombang, Surabaya hingga Kediri.


Meski tetap memenuhi permintaan berbagai jenis klompen, namun sebagian besar produksi pengrajin di desa ini model standar dan sangat sederhana. “Kami jualnya Rp 10.000 per sandal (model standart),” ujar Ramli.
Ramli yang saat ini bekerja dibantu istri, anak dan saudaranya karena sudah tak mempekerjakan karyawan, mengaku akan tetap bertahan selama masih ada peminat klompen.
“Saya berharap ada perhatian dari pemerintah terutama dalam promosi dan penjualan,” pungkasnya.

Source https://news.detik.com https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3485219/tergerus-zaman-pengrajin-klompen-andalkan-pesanan-dari-pesantren
Comments
Loading...