Kerajinan Koran Bekas Di Lembata

0 305

Kerajinan Koran Bekas Di Lembata

Lamalera merupakan sebuah kampung pesisir yang terkenal karena tradisi menangkap ikan raksasa secara ”kuno” oleh para nelayan setempat. Tradisi itu sudah mereka jalankan secara turun-temurun. Namun, salah seorang warganya, Clemens Korohama, malah memilih jalan lain. Sejak berusia 19 tahun, dia justru merantau ke Kupang dan belakangan menafkahi keluarga dengan kerajinan berbahan kertas koran bekas.

Secara administratif, Kampung Lamalera yang juga menjadi nama desanya masuk dalam wilayah Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kampung tua itu tumbuh di pesisir selatan, berjarak sekitar 70 kilometer dari Lewoleba, kota kabupaten.

Bagi kebanyakan orang, koran bekas adalah sampah yang harus dilenyapkan. Namun, sebaliknya bagi Clemens, benda itu merupakan harta berharga karena menjadi bahan baku utama kerajinan tangan yang dia tekuni sejak sekitar lima tahun lalu.

Proses membuat kerajinan itu lazimnya dalam dua bentuk. Pertama, lembaran kertas koran dia gunting-gunting secara memanjang selebar sekitar 5 sentimeter. Selanjutnya, guntingan itu dipilin-pilin hingga berbentuk tali.

Setelah direndam dalam air bercampur zat perekat, hasil pilinan itu pun siap dirakit menjadi produk kerajinan sesuai bentuk yang diinginkan pembuatnya, seperti piring makan, stoples, wadah kertas, saputangan, pot bunga, dan hiasan gelas.

Sementara proses lain, lembaran koran bekas langsung direndam dalam air, lalu diremas-remas dan dihancurkan hingga mirip bubur kertas. Setelah dicampur zat perekat secukupnya, bubur kertas itu kemudian dirangkai menjadi kap lampu dan berbagai hiasan ruangan lain.

Setelah melalui beberapa kali uji coba, kualitas hasil kerajinan Clemens semakin baik. Seperti gayung bersambut, Lurah Naikoten II ketika itu, tahun 2009, Ricky Terik, langsung mendukung kerajinan yang dia buat. Clemens pun mendapat bantuan dana Rp 500.000 lewat Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan.

Clemens mencatat sejumlah peristiwa serta dukungan yang membangkitkan kepercayaan diri sehingga dia makin serius menekuni kerajinan ini. Salah satunya adalah tamu asal Pulau Jawa yang datang ke rumah sekaligus tempat usaha kerajinannya.

”Ketika itu, di ruang depan sedang dipajang hasil kerajinan berupa dua stoples lengkap dengan dulangnya,” cerita dia. Clemens bersama istrinya, Rosalina Nepasari, dengan enteng menyebut harga hasil kerajinan itu sekitar Rp 600.000.

Dia kaget bercampur terharu karena sang tamu tanpa menawar sedikit pun langsung membayar lunas produk kerajinannya. Padahal, sepasang stoples beserta dulangnya itu dijual seharga Rp 300.000 sekalipun sudah menghasilkan keuntungan baginya.

Lewat kerajinan berbahan koran bekas pula, beberapa kali dia dilibatkan dalam kegiatan pameran hasil kerajinan yang diselenggarakan Pemerintah Kota Kupang. Hal itu seperti pada tahun 2010 saat salah seorang wali kota asal Belanda berkunjung ke Kota Kupang.

Source Kerajinan Koran Bekas Di Lembata Kerajinan Koran Bekas Di LembataKerajinan Koran Bekas Di Lembata
Comments
Loading...