Kerajinan Koran Bekas Karya Ibu Ibu Di Jakarta

0 93

Kerajinan Koran Bekas Karya Ibu Ibu Di Jakarta

Berawal dari keisengan karena melihat banyaknya koran yang menumpuk dan tidak terpakai coba dimanfaatkan oleh seorang ibu rumah tangga bernama Haerani Erlina Farida untuk dijadikan suatu barang yang menarik dan memiliki nilai ekonomi.

Haerani sebenarnya tidak memiliki pengalaman dalam olahan koran ini. Keterampilannya hanya didapatkan secara otodidak saja.

“Awalnya hanya iseng saja, setelah mencoba-coba untuk dibuat barang, ternyata bagus dan memiliki nilai jual, saya pikir kenapa peluang ini tidak dimanfaatkan dan akhirnya saya tekuni,” katanya.

Selama 3 bulan, dia melalui proses belajar dan mencoba. Dia pun mengaku kerap menemui kesulitan saat akan membentuk koran maupun dalam hal daya tahan setelah berbentuk barang jadi. Namun karena belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, dengan sendirinya dia menemukan tips-tips untuk mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut.

“Masa-masa awal banyak kesulitannya, seperti korannya yang dibasahi ternyata tidak kering merata atau ketika sudah jadi tetapi ternyata cepat rusak. Tetapi dari proses trial and error itu saya banyak belajar soal teknik-tekniknya,” ujar wanita kelahiran Bandung, 29 November 1963 ini.

Setelah Haerani berhasil membuat sebuah barang dari koran bekas, dia mengaku hanya menggunakan barang hasil karyanya tersebut untuk keperluan di rumah saja, bukan untuk dijual.

Namun ide untuk menjualnya muncul ketika dirinya kedatangan tamu yang tertarik akan hasil karyanya tersebut, bahkan sampai langsung memesan. “Saya kaget campur senang, karena untuk dihargai saja saya sudah senang, tetapi malah sampai ada yang pesan,” katanya.

Karena semakin lama semakin banyak pesanan, pada tahun 2010 dengan modal uang sebesar Rp 100 ribu, Haerani pun mulai menekuni usaha olahan koran bekasnya ini. Uang modal yang terhitung kecil tersebut hanya dia  digunakan untuk membeli lem dan pelitur. Hal itu karena memang peralatan yang digunakan cukup sederhana dan bahan bakunya hanya berupa koran bekas yang bisa didapatkan secara cuma-cuma.

Meski menggunakan peralatan yang sederhana, namun proses pengolahan koran bekas ini terhitung cukup rumit dan membutuhkan kesabaran. Koran yang ada dipotong, dilipat kemudian dicelupkan kedalam air dan ditiriskan selama 12 jam, setelah itu koran dipintal hingga membentuk seperti tali dan mulai dibentuk sesuai barang yang ingin dibuat.

Setelah menjadi barang tertentu kemudian diperkuat menggunakan lem kayu dan tahap akhirnya diwarnai dengan pernis dan pelitur untuk kayu. “Produk ini bertahan lama walaupun terkena air, karena kita menggunakan cukup banyak lem kayu dan pelitur yang berfungsi untuk memperkokohnya,” jelasnya.

Untuk membantunya dalam memenuhi target pesanan barang, Haerani pun akhirnya mempekerjakan 8 orang pengrajin. Para pengrajinnya ini membuat barang sesuai permintaan di rumah mereka masing-masing dan pendapatan yang didapat oleh tiap pengrajin pun tergantung dari seberapa banyak barang yang mampu dihasilkan.

“Kalau mereka membuat dirumah masing-masing, mereka kan tetap bisa mengurus anak dan keluarganya,” ujar ibu dua anak ini.

Walaupun proses pengerjaan barang dikerjakan tanpa pengawasan langsung dari Haerani, namun dia pun menerapkannya acuan kualitas barang dengan ketat. Baginya barang dihasilkan oleh para pengrajinnya tersebut harus sesuai dengan standar telah dia tetapkan agar para pembeli tidak merasa kecewa akan produknya.

Source https://www.liputan6.com https://www.liputan6.com/bisnis/read/620167/koran-bekas-jadi-punya-nilai-jual-di-tangan-haerani-erlina
Comments
Loading...