Kerajinan Kulit Karya Difabel Di Sleman

0 260

Kerajinan Kulit Karya Difabel Di Sleman

Sulaiman. Siapa sangka, ia adalah seorang difabel. Karena kecelakaan lalu lintas, ia terpaksa menggunakan kaki kiri palsu. Setelah pulih dari kecelakaan itu, Sulaiman mulai merintis usaha kerajinan kulit di sebuah toko kecil di Jalan Kaliurang kilometer 13,5, Sleman, Yogyakarta. Toko itu bernama Fanri Collection, pusat kerajinan kulit dan kulit ikan pari. Ia mempekerjakan lebih dari 10 orang karyawan. Meskipun begitu, Sulaiman tidak ingin hanya duduk bersila. Dia ikut andil dalam pemasaran kerajinan kulit tersebut bersama para karyawannya.

Penghasilan yang diperoleh dari penjualan dompet maupun tas yang berbahan kulit ikan pari, biawak, maupun ular tersebut memang bisa dikatakan lumayan. Dompet kulit dijual dengan kisaran harga Rp 150.000,00 hingga Rp500.000,00, sedangkan untuk tas mulai dari Rp 1.500.000,00.

Sebelumnya, Sulaiman pernah kursus kerajinan kulit selama berada di pusat rehabilitasi Yakkum. Ia pun berpikir untuk mengembangkan keahlian itu. Selainmelihat peluang bisnis kerajianan kulit, dia juga ingin merangkul kawan-kawan mantan pasien Yakkum yang tak punya mata pencaharian untuk bekerjasama dengannya.

Pengusaha kerajinan kulit kelahiran Brebes itu sempat mengalami gulung tikar. Usaha yang dimulai sejak 1994 itu terpaksa vakum sekitar tahun 2004-2005. Hal tersebut terjadi karena pemasukan yang diperoleh tidak sebanding dengan pengeluaran yang dilakukan.

Tahun 2005, ayah dua anak ini memutuskan untuk membuka usahanya kembali. Kali ini, dia mempekerjakan seluruh karyawan yang terdiri dari para difabel. Sebelumnya, iajuga mempekerjakan karyawan difabel,namun hanya beberapa orang dan sisanya merupakan karyawan non-difabel.

Dua tahun vakum, Sulaiman banyak mendalami agama agar apa yang dilakukannya memperoleh keberkahan. Lalu dalam keseharian, ia mewajibkan seluruh karyawan untuk melakukan sholat berjamaah di masjid. Namun banyak karyawan yang keberatan dengan aturan itu. Bahkan Sulaiman harus merogoh kocek agar karyawannya termotivasi untuk melaksanakan sholat berjamaah. Lama-kelamaan sholat berjamaah itu tidak lagi karena imbalan, melainkan sebuah kebiasaan. “Kalau kamu nggak mau sholat lebih baik cari kerjaan yang lain. Yang penting kamu taat beribadah walaupun kamu tidak mempunyai kemampuan atau keahlian yang lebih,” tutur Sulaiman jika menasihati karyawannya.

Selain itu, Sulaiman juga menerapkan mengaji Al-Qur’an setiap sore. Meskipun begitu, dahulu ternyata pria ini tidak memiliki dasar pendidikan agama. Ia belajar secara autodidak, juga mengikuti berbagai pengajian. Kemudian ia menerapkan ilmu agama itu dalam kehidupan sehari-hari.

Source https://himmahonline.id https://himmahonline.id/2014/08/03/berkah-ibadah-difabel-sukses-menjadi-perajin-kulit/
Comments
Loading...