Kerajinan Kuningan Di Bondowoso

0 203

Kerajinan Kuningan Di Bondowoso

Warnanya cerah, mencolok. Didominasi merah dan hijau. Motif lukisan, nyaris semua berbentuk bunga. Itulah ciri khas kerajinan kuningan Cindogo, Tapen, Bondowoso. Warna dasar kuning mengkilat, karena memang bahan bakunya memudahkan orang mengenal dari mana kerajinan itu berasal.

Melewati kawasan Cindogo, tampak deretan etalase yang memajang aneka kerajinan kuningan. Berbagai bentuk. Mulai dari model vas bunga kecil-besar, kinangan/set, sakramen penganten/set, paidon, asbak, gantungan pakaian, tempat bollpoint, sampai miniatur patung kuda dan singa.

Kerajinan tersebut produk home industry masyarakat setempat. Tak jelas, siapa yang memulai usaha ini. Yang jelas, ada secara turun-temurun, seperti yang dikisahkan Hj. Sus, perajin kuningan bermerk “Setia” sejak tahun 1950-an. Perjalanan model produknya pun mengalami  pasang surut. Mulai dari yang popular puluhan tahun lalu, yakni cetakan kue bikang dan kue matahari (kini langka), sampai aneka model terkini.

Proses produksi relatif sederhana, tapi memerlukan kecermatan. Mirip dengan cara membuat kerajinan cor logam/aluminium di Mojokerto dan Jombang. Mula-mula membuat bentuk sesungguhnya yang akan dicetak. Kuda misalnya, dibuat dari tanah/lilin. Kemudian disemen, dibungkus dengan tanah. Setelah itu dibakar hingga memungkinkan lilin leleh, sehingga otomatis meninggalkan bekas guratan di dalam tanah atau semen pembungkus.

Rongga cetakan itulah yang diisi dengan cairan kuningan. Jadilah bentuk yang dikehendaki. Kemudian dihaluskan/digosok. Lazimnya, proses mengukir merupakan bagian tersulit. Diperlukan ketelitian dan ketekunan tinggi. Kadang digam bar dahulu dengan pensil. Pengecatan merupakan bagian terakhir, tapi ada beberapa motif yang tidak membutuhkan pengecatan. Cukup coating agar halus. Seperti patung kuda atau kinangan/set.

Kerajinan Cindogo sudah melanglang buwana. Hampir setiap even pameran kerajinan di dalam mapun luar negeri, Cindogo selalu hadir. Pasaryang paling poten sial adalah Surabaya, Jakarta, Denpasar, dan Medan. Untuk pasar luar negeri, kebanyakan menembus Eropa dan Australia. “Biasanya mereka (buyers) dating sendiri atau pesan melalui telepon,” kata Hj. Sus.

Ketika disarankan mencari peluang pasar lewat internet, dia jawab dengan gelengan kepala. Begitu juga soal model yang kebanyakan bercorak bunga, dan jenis/bentuknya pun pada tiap-tiap perajin hampir sama. Munculnya inovasi baru dalam produk, seperti bercorak abstrak atau contemporer, tidak ada. Mereka khawatir tidak laku. Satu set kinangan ukuran standard seharga Rp200 ribu. Vas bunga sekitar 30 cm, Rp75 ribu. Namun ada juga juga harganya Rp2 juta. Nominal harga (variatif) itu tergantung berat, ukuran, bentuk ukiran, dan tingkat kesulitan dalam proses produksi. Miniatur kuda atau singa yang tak memerlukan ukiran kembang (polos), lebih murah dibandingkan dengan vas yang sarat ornamen (lukisan) warna-warni, meski bahan bakunya sama beratnya.

Source https://jawatimuran.wordpress.com https://jawatimuran.wordpress.com/2012/04/05/kerajinan-kuningan-cindogo/
Comments
Loading...