Kerajinan Kursi Bambu Di Purwokerto

0 202

Kerajinan Kursi Bambu Di Purwokerto

Demi menjajakan kursi bambu hasil kerajinan tangannya, Sidin (50) bersama keempat rekannya asal Purwokerto Kabupaten Banyumas Batu Raden (Jateng) harus kerja keras mendorong gerobak keliling Palembang sejauh 30 Km lebih setiap harinya.

“Kita dari Purwokerto. Baru dua kali ke Palembang. Tiba di sini sejak akhir tahun 2012,” ungkap Sidin di sela-sela membersihkan kursi bambunya di pangkalan Jl Soekarno Hatta, sekitar 150 meter dari simpang Tanjung Api-Api, Kecamatan Alang Alang Lebar Km 10.

Menurut Sidin, ia numpang tempat di Jl Soekarno Hatta sudah 23 hari. Sebelumnya tinggal di samping Bank SumselBabel Jakabaring bersama tiga temannya yang lain. Tiganya masih ada Nendar, Sudiro, dan Arif.

“Selama di Palembang ia berkeliling juga ke Tanjungenim, Lubuklinggau, Muarenim. Bambu asli bawa yang sudah jadi dibongkar keping-keping dari Purwokerto Kabupaten Banyumas Batu Raden (Jateng). Barang dikirim dengan truk fuso.

Soalnya di Purwokerto sudah dikerjakan pengrajin dari sana. Kalau mau bikin di sini memang banyak bambu di sini, tapi pangkalan bambu nggak ada. Mau dandani nggak ada. Jadi buka pangkalan,” ujar Sidin.

Setelah mendapat kiriman bahan dari Purwokerto, Sidin dan kawan-kawannya membersihkannya dengan diampelas, ujung-ujung bambu dicat biar terlihat bersih dan divernis.

Satu pasang terdiri dari 1 kursi panjang (untuk tiga orang duduk), 2 kursi kecil, dan 1 meja. Ada juga tersedia 1 kursi panjang. Untuk tiduran.

Kalau 1 set dihargai Rp 500 ribu-Rp 600 ribu. Sedangkan untuk kursi panjang tiduran dihargai Rp Rp 150 ribu.

Kalau kursi panjang sendiri yang tidak set dihargai Rp 200 ribu. Yang pendek minimal 2 kursi bersama 1 meja seharga Rp 350 ribu.

“Kalau berangkat dari sini pukul 09.00 pulang sore pukul 17.00 atau 18.00. Dalam sehari bisa lebih 30 KM. Bolak-balik Jakabaring-Alang Alang Lebar. Masuk ke perumahan-perumahan. Di Palembang numpang dengan orang. Orang memilih kursi bambu karena lebih murah, kalau dipakai teratur di dalam, tidak di tempat terbuka (hujan panas) maka akan awet. Kalau lagi ada rezeki laku 2-3. Kadang laku 1. Kalau lagi sepi, buat makan aja nggak cukup,” kata Sidin.

Ia mengaku pemasaran kursi bambu selama ini agak lambat lakunya. Padahal banyak peminatnya.

“Cuma mereka yang sudah nawar mengaku belum ada uang, lain waktu. Untung dari satu kursi kadang cuma Rp 20 ribu. Sebelumnya merantau serabutan di Jakarta. Menjadi tukang, dagang. Saya nggak pernah tolak kerja, biar nggak susah cari makan,” aku bapak tiga anak buah pernikahannya dengan Ny Turisa.

Sidin merantau meninggalkan keluarganya di Purwokerto. Isterinya pun kalau sedang ada modal berjualan.

Source http://palembang.tribunnews.com http://palembang.tribunnews.com/2013/02/12/dorong-gerobak-sejauh-30-km-jajakan-kursi-bambu
Comments
Loading...