Kerajinan Lakop Sapu Di Purbalingga

0 130

Kerajinan Lakop Sapu Di Purbalingga

Walau terlihat sepele, lakop sapu ternyata berpotensi besar untuk menjadi lahan bisnis. Permintaan lakop sapu ini terus meningkat. Produsen lakop ini menerima pesanan baik untuk sapu lokal maupun sapu ekspor. Mereka bisa meraup omzet hingga Rp 60 juta sebulan.

Meski terlihat sepele, sebaiknya Anda jangan meremehkan produk lakop sapu. Rumah untuk ijuk sapu ini ternyata menyimpan prospek bisnis yang menjanjikan.

Perajin lakop sapu ini mengaku kewalahan memenuhi permintaan dari para produsen sapu lokal. Apalagi, mereka juga kebanjiran order dari para pembuat sapu dengan orientasi ekspor.

Tak hanya menjanjikan dari segi bisnis, usaha pembuatan lakop ini juga dinilai ramah lingkungan. Para produsen lakop ini memanfaatkan limbah plastik bekas sebagai bahan baku utama produknya.

Meski menggunakan plastik daur ulang, para produsen mengklaim, kualitas lakop sapu buatan mereka terjaga. “Kualitas produk kita tak kalah dengan produk yang berasal dari biji plastik asli,” ujar Antony Sihombing, produsen lakop sapu dengan bendera Bunga Perdana.

Antony yang sudah berkecimpung dalam usaha ini selama tiga tahun terakhir, hanya menggunakan plastik-plastik bekas untuk membuat lakop sapu. “Kami memakai plastik jenis HDPE,” katanya. Plastik HDPE atau high density polyethylene merupakan plastik yang sering dipakai membuat galon air, jerigen dan botol.

Dalam satu bulan, Antony mendatangkan dua sampai tiga ton plastik daur ulang dari para pensuplai di Bekasi. Harga plastik bekas itu Rp 10 juta per ton. “Lebih murah daripada beli biji plastik yang baru,” tuturnya.

Dalam sehari, Antony memproduksi 2.000 hingga 3.000 lakop sapu. Produksinya kian digenjot ketika ada peningkatan permintaan.

Namun, sampai saat ini, dengan bantuan enam karyawannya, Antony hanya memproduksi satu jenis lakop sapu. Yakni, lakop jenis rayung atau grass broom yang berisi 15 lubang ijuk.

Harga jual lakop Bunga Perdana ini tergolong murah, berkisar Rp 750-Rp 1.000, tergantung ketebalan kulitnya. Antony memang membedakan lakopnya dengan ukuran berat, yakni berat 22 gram (g) dan 30 g.

“Untuk ketebalan 22 g, biasanya dipasarkan untuk produsen sapu lokal, sedangkan yang 30 g untuk kualitas ekspor,” jelas Antony.

Lakop kualitas ekspor banyak dipesan perajin sapu dari Purbalingga. Dari sinilah, lakop buatan Antony ikut dieksor ke Jepang, Korea, Taiwan dan Malaysia. Sedangkan untuk pasar dalam negeri, biasanya, lakop dikirim untuk perajin sapu di Bekasi dan Sukabumi.

Permintaan lakop sapu dari satu perajin cukup banyak. Menurut Antony, satu orang perajin sapu bisa memesan hingga 30.000 unit lakop sapu per bulan. Tak heran, jika Antony bisa meraup omzet cukup besar. Dalam sebulan, ia bisa mengantongi omzet antara Rp 40 juta hingga Rp 60 juta.

Produsen lakop sapu juga terdapat di Gresik, Jawa Timur. Dengan memasang merek Gigres Plastic, Zulkhij telah menekuni usaha pembuatan lakop sapu ini sejak tiga tahun yang lalu.

Hampir sama seperti Antony, Zulkhij hanya dibantu tujuh orang karyawan. Maklum, kapasitas mesin pembuatan lakop ini cukup besar. Alhasil, dalam sehari, Zulkhij pun bisa memproduksi sekitar 3.000 hingga 4.000 lakop. “Kebanyakan yang membeli adalah para reseller,” kata Zulkhij.

Walau produknya belum diekspor, namun lakop produksi Zulkhij telah merambah hingga Sulawesi dan Kalimantan. Zulkhij menjual lakop sapu buatannya dengan harga sekitar Rp 300 per unit.  Dari usaha ini, Zulkhij pun bisa meraup omzet berkisar antara Rp 10 juta hingga Rp 20 juta setiap bulan.

Source https://peluangusaha.kontan.co.id https://peluangusaha.kontan.co.id/news/lakop-sapu-menyapu-pasar-lokal-sekaligus-ekspor-1
Comments
Loading...