Kerajinan Lampu Hias Di Yogyakarta

0 649

Kerajinan Lampu Hias Di Yogyakarta

Cara mengatasi masalah tumpukan sampah adalah dengan cara memanfaatkannya. Salah satu pengusaha yang melihat peluang barang bekas menjadi layak jual adalah Putri dan Erwita wraga Yogyakarta. Dua sahabat yang sama-sama lulusan S2 Management UGM Yogyakarta ini memang sedari awal ingin berbisnis yang memiliki konsep tanpa limbah, bermanfaat, dan ramah lingkungan. Hingga tercetus ide membuat kerajinan lampu tidur berkelas dari barang bekas.

Barang bekas banyak dijumpai di rumah-rumah bahkan industri, jadi tidak sulit untuk memperolehnya. Harganya pun sangat murah, bahkan ada yang memberikan secara sukarela. Sehingga cocok jika dijadikan sebagai bahan baku untuk membuat produk atau barang lain yang berfungsi dan bernilai.

”Awalnya teman saya Erwita punya lampu tidur cantik dan unik, bentuknya juga tidak pasaran. Dia bikin untuk koleksi pribadi saja. Tapi saya tertarik, terus ngobrol kenapa nggak dibuat bisnis saja. Kemudian kami sepakat untuk membuat lagi beberapa pcs dan kami pasarkan,” tutur Putri yang juga lulusan S1 Arsitektur UGM.

Dalam membuat kerajinan lampu tidur cantik hemat energi ini, Putri dan Erwita bekerja sama dengan rekannya Agung ”Plenthung” Srianasih yang merupakan lulusan ISI. Tak jarang mereka bersama-sama mencari dan mengumpulkan barang bekas untuk dijadikan kerajinan lampu hias. Di antaranya yang menjadi bahan baku adalah botol.

Botol yang digunakan pun tidak bisa sembarang botol, mereka memilih yang tebal dan bening atau doff. Bahan baku lainnya yaitu lampu LED yang hemat energi, tahan lama dan maksimal dayanya 3 watt. Dan barang pendukung lainnya bisa apa saja, dimulai dari ganjel rel, teko bekas, besi bekas, limbah kayu mebel, dan lainnya. Untuk isiannya menggunakan pecahan kaca seperti kristal (temperet glass).

”Jadi brand yang kami beri nama Penoli ini memang dikhususkan untuk memanfaatkan barang-barang limbah atau recycle product. Kami menyebutnya sebagai Upcycled ArtworkAntiques sehingga tidak bisa dihargai murah. Kami juga mengedukasi pembeli bagaimana cara menghargai sebuah karya seni,” jelas pemilik nama lengkap Supradani Putri Nurina ini.

Sebagai Director of Marketing Penoli, Putri mulai mempomosikan kerajinan lampunya lewat Instagram sejak awal 2016 dan ikut beberapa pameran di Yogyakarta. Kemudian rencananya dalam waktu dekat akan melakukan penawaran ke berbagai hotel dan cafe di Jakarta dan Yogyakarta. Wanita yang juga hobi mendesain furniture interior ini membandrol harga lampunya mulai dari Rp 325 ribu hingga jutaan rupiah, yang mayoritas pembelinya berasal dari Jakarta dan Yogyakarta.

”Harganya tergantung kelangkaan bahan, ide, dan kesulitan membuatnya. Jujur kebanyakan orang undur membeli setelah tahu harganya. Tapi dari situ kami mulai coba edukasi. Sejauh ini ada 15 lampu yang terjual,” tuturnya.

Lampu LED warna warni yang makin terlihat cantik di dalam botol ini membutuhkan waktu 3 sampai 4 hari atau bahkan sepekan dalam proses pengerjaannya yang dikerjakan langsung oleh seorang seniman. Namun kini, untuk memenuhi permintaan pasar, Putri dan Erwita mengajak pemuda usia SMA dan Mahasiswa untuk dilatih bersama seniman membuat kerajinan lampu yang bertempat di Panggungharjo. Kini terdapat 4 orang pemuda yang membantu dalam proses pembuatan. Dalam satu bulannya, Penoli dapat membuat artwork-nya minimal tiga buah.

”Kami membebaskan seniman dan pemuda untuk berkreasi merangkai lampunya. Dan kini mereka tidak hanya membuat kerajinan lampu, tapi juga berkembang membuat meja, dan berbagai furniture lain misalnya lampu gantung. Kami hanya mengecek proses finishing sudah layak dijual atau belum,” terang Erwita sebagai Director of Operation.

Source https://bisnisukm.com https://bisnisukm.com/dari-barang-bekas-jadi-kerajinan-lampu-yang-berkelas.html
Comments
Loading...