Kerajinan Lilin Wangi Di Jakarta

0 98

Kerajinan Lilin Wangi Di Jakarta

Selain menjadi penerang, kini lilin pun sering digunakan sebagai pemanis ruangan. Apalagi, lilin yang dipadukan dengan pewangi bisa menghasilkan berbagai aroma bila dinyalakan.

Kreasi lilin penghias ini kini terus berkembang. Selain desain, bahan baku lilin pun kian beragam. Seiring gerakan ‘go green’ yang lagi ngetren, sebagian perajin mulai meninggalkan bahan baku parafin.

Di tangan pebisnis lilin, Lani Darmadi (64) mengolah produknya dengan menggunakan crude palm oil (CPO) atau kelapa sawit. “Bila dinyalakan, lilin parafin menyisakan asap dan jelaga, sementara lilin dengan bahan baku kelapa sawit ini tidak, lilin akan habis menguap,” ujarnya.

Desain cetakan lilin yang diciptakan Lani beragam seperti bunga, binatang, buah, patung hingga tengkorak. Agar lilin semakin menarik, Lani membuat lilin dalam warna yang beraneka ragam. Pilihan aromanya juga banyak, misalnya ada aroma yang bisa mengusir nyamuk dan lalat.

“Kami mendatangkan pewarna dan pewangi lilin ini dari Eropa, Hong Kong, Jerman, Swiss, Prancis dan Selendia Baru sehingga ramah lingkungan,” jelas dia.

Setiap bulannya, Lani dapat memproduksi 4-6 ton lilin CPO ini. Sekitar 90 persen lilin buatannya di ekspor ke Jerman, Swiss, Prancis, Swedia, Jepang dan Korea. Dengan mempekerjakan 30 orang, Lani dapat mengantongi omzet Rp 500 juta per bulan.

Tidak gampang menjalani bisnis yang sudah berjalan sejak 1999 ini, dengan modal awal sekitar Rp 100 juta, Lani harus berani bersaing dengan perusahaan lilin lainnnya. Maklum saja, hingga saat ini pemerintah kurang mendukung bisnis dalam industri kreatif, belum lagi mahalnya UMR bagi para pekerja.

Untungnya berkat pengalaman semasa kuliah di Jerman dengan mengambil jurusan kimia mampu mengecilkan biaya dalam proses pengelola lilinnya. Untuk pemasarannya sendiri, Biolina alias lilin CPO dilakukan secara online, dan sisanya dijual melalui pameran, hotel di Jakarta dan Bali.

Rentang harga lilin buatan Biolina sekitar Rp 10 ribu hingga Rp 300 ribu per buah. Ukuran dan desain menentukan harga. Misalkan, lilin yang berharga Rp 10 ribu adalah lilin bulat kecil, tanpa pewangi dan tingginya hanya 1,5 cm. Sedangkan lilin yang dijual Rp 300 ribu adalah lilin yang berbentuk penghias ruang, tinggi sekitar 50 cm.

Secara umum, harga lilin beraroma lebih tinggi sekitar 30 sampai 40 persen dari yang biasa. “Biasa buyer kami yang dari Eropa suka lilin tanpa beraroma, konsumen Asia lebih beraroma,” ungkapnya.

Permintaan ekspor lilin juga meningkat tajam menjelang natal, paskah dan imlek. “Kenaikan bisa 50 persen,” katanya.

Source https://www.merdeka.com https://www.merdeka.com/uang/diekspor-ke-6-negara-bisnis-lilin-wangi-kantongi-rp-500-jutabulan.html
Comments
Loading...