Kerajinan Limbah Jati Pakis Di Desa Mangliawan

Jpeg
0 152

Kerajinan Limbah Jati Pakis Di Desa Mangliawan

Expo Pembangunan 2018 memberka berkah bagi peserta pameran. Seperti halnya dirasakan oleh perajin Woodcraft Abdul Muntolib asal Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis. Sejak membuka stan pada Expo Pembangunan yang dilangsungkan di halaman Stadion Kanjuruhan suah ada 20 orang yang sudah memesan barang kerajinan kayu jati khas Pakis tersebut. Para pemesan pun rela antre hingga tiga bulan untuk mendapatkan barang produk olahan limbah kayu jati yang diinginkan.

Limbah kayu itu disulap menjadi produk seperti satu set meja ruang tamu, lemari, rak sepatu hingga dinding rumah.

Abdul Muntolib mengatakan bahwa kegiatan pameran ini sangat membantu para pelaku IKM dan UKM di Kabupaten Malang, untuk menonjolkan potensi di wilayahnya masing-masing. Salah satu produk yang dikenalkan kepada masyarakat Kabupaten Malang dari Desa Mangliawan, Pakis adalah kerajinan woodcraft jati.

“Sebelumnya saya apresiasi dengan Camat Pakis, Firmando Hasiholan Matondang yang memahami potensi wilayahnya. Sehingga kami perajin diberi kesempatan dalam membantu memerkan beragam produk dari limbah kayu jati di stan ini yang berujung marketing,” kata Tolib disela menjaga stannya.

Tolib menjelaskan bahwa dirinya sudah menekuni bidang meubeler recycle hampir 12 tahun. Awalnya dirinya membuat kerajinan kayu yang menghasilan produk berskala kecil seperti asbak rokok dan alat pijat tradisional berbahan kayu.

Sebenarnya cara pembuatan produk woodcraft, menurutnya sangat sederhana karena tidak menggunakan alat dan keahlian secara khusus.

Cukup menggunakan logika dasar dengan menyamakan dimensi dan dicutting lalu dibentuk menjadi produk kursi, meja dan lemari. Sehingga produk yang dihasilkan berupa interior rumah, backdrop dinding kayu.

“Intinya yang dibutuhkan membuat kerajinan woodcraft yaitu ulet, tekun dan telaten. Artinya kita harus paham cara menyusun dan pola membuat meubeler sesuai keinginan, yang penting barangnya kuat dan praktis,” terang pria 37 tahun itu.

Terkait bahan limbah kayu jati dirinya mendapat supplier diantaranya dari pabrik pengolahan kayu di Malang dan daerah Menganti, Gresik dan Pandaan.

“Kalau bahannya kami dominan kayu jati, karena pasar sangat mudah menerima bahan tersebut. Selain itu juga ada supplier kayu jenis sonokeling dan pinus,” ungkap pria satu anak tersebut.

Tolib menyampailan bahwa dalam pameran kali ini produknya sudah banyak dipesan masyarakat sampai membutuhkan waktu sekitar 3 bulan  barangnya sudah siap antar.

Dia mengungkapkan harga khusus pameran ini lemari per pintu Rp 500 ribu diluar pameran harganya pasti di atasnya. Kemudian, satu set meja makan dengan tiga kursi Rp 750 ribu dan satu set kursi teras Rp 500 ribu.”Kebanyakan mereka membeli untuk interior rumah dan yang lagi in yaitu cafe dan distro,” pungkasnya

Source https://www.malangtimes.com https://www.malangtimes.com/amp/baca/30669/19700101/070000/tergoda-produk-kerajinan-limbah-jati-pakis-pengunjung-expo-rela-antre-dapatkan-barang-hingga-tiga-bulan/
Comments
Loading...