Kerajinan Limbah Kayu Di Malang

0 257

Kerajinan Limbah Kayu Di Malang

Sepak terjang pasangan suami istri asal Malang, Jawa TimurHery dan Retno patut menjadi inspirasi bagi pasangan lainnya. Pasutri ini sukses menjalankan bisnis, pengolahan sampah kayu, mungkin bagi banyak orang benda tersebut tak bernilai.

Hery dan Retno mampu memaksimalkan bahan kayu bekas pabrik mebel dan furnitur yang tidak terpakai menjadi desain-desain hiasan kayu yang unik seperti tempat pensil, tempat gulungan tisu, boneka kayu dan gantungan baju. Namun proses keduanya menjadi pengusaha dengan omset Rp 30-50 juta/bulan, dilewati dengan kerja keras.

Retno menuturkankan ketika memulai bisnisnya pertama kali, tidak membutuhkan modal. Awalnya usahanya pun masih belum berkembang karena ketidaktahuan mereka pada produk kayu yang disukai masyarakat.

“Saya nggak modal karena pakai limbah pabrik itu dan pengerjaan kita menggunakan gergaji pabrik di Malang. Dahulu kita masih melihat-lihat dan laku di pasaran tidak. acara pertama Expo pembangunan di Malang kita pamerkan produk kita. Dari acara itu kita mendapat masukan bentuk produk yang laku dan bermanfaat dipasaran. Tahun 1992 omset masih Rp 100.000 itupun jika ada acara saja,” tuturnya.

Dari pengalaman itu, Hery dan Retno kemudian mengubah desain pada produk kayu yang dibuatnya. Tahun 1995, mereka menambahkan desain buah-buahan seperti strawberry dan terus menambah desain pada tahun yang sama. Selain itu perluasan pasar kembali dilakukan walaupun belum masih lingkup Kota Malang Jawa Timur.

Masa puncak bisnisnya terjadi pada tahun 2003, produk Hery dan Retno dilirik pasar Malaysia dan Jamaika. Akhirnya inilah pengalaman mereka untuk melakukan ekspor dan hasilnya negatif. Menurutnya tidak ada kesepakatan harga dan penipuan yang dilakukan eksportir membuat mereka menghentikan ekspor produknya ke Jamaika dan Malaysia.

“Tahun 2003 kita merambah pasar internasional yaitu Jamaika dan Malaysia ada order sekitar Rp 25 juta dari Jamaika dan Kuala Lumpur Rp 25 juta. Setelah itu tidak ada kesepakatan harga dan kami berhenti. Selain itu saya juga rugi imateril tenaga kerja. Saya juga belum siap dan saya pernah tertipu lewat eksportir di Bali hingga kami harus menutupi kekurangan yang ada,” katanya.

Sejak saat itu, Heri dan Retno lebih konsentrasi untuk merambah pasar domestik. Hasilnya tidak sia-sia. Saat ini keduanya mampu meraup omset hingga Rp 30-50 juta per bulan. Harga juga beragam mulai dari Rp 10.000 hingga jutaan rupiah. Produk yang dijual seperti tempat pensil, tempat gulungan tisu, boneka kayu dan gantungan baju.

“Nggak mahal produk kami dari Rp 10.000 hingga jutaan rupiah itu untuk desain khusus. Omset pendapatan per bulan Rp 30 juta. Musim pameran dan pernikahan omset saya lebih dan bisa mencapai Rp 50 juta. Januari nanti sudah mulai banyak pemesanan. Rumah saya di Gondosuli Malang sering dijadikan tempat kunjungan. Ini kayu pinus dari Malang dan saya sudah tahu peluang ini baik ke depan,” tutupnya.

Source https://finance.detik.com https://finance.detik.com/solusiukm/2118464/pasutri-ini-sukses-menyulap-sampah-kayu-jadi-rupiah
Comments
Loading...