Kerajinan Limbah Tekstil Karya Siswa SMP Di Mungkid

0 150

Kerajinan Limbah Tekstil Karya Siswa SMP Di Mungkid

Pagi sekitar pukul 09.00, terik matahari sudah terasa menyengat kulit ari. Udara di dalam lingkungan SMP Terbuka yang menginduk di SMPN 1 Tempuran terasa kurang segar. Sekolah yang terletak di Jalan Purworejo – Magelang itu memang dikelilingi banyak pabrik yang mengeluarkan asap dari cerobong raksasa.

Di ujung belakang sekolah itu terdapat ruang keterampilan yang sudah dijejali siswa kelas VII SMPN 1 Tempuran dan siswa kelas VIII dan IX SMP Terbuka Tempuran. Mereka fokus belajar menjahit lurus di koran bekas dan membuat pola sesuai keinginan pada kain. Siswa ini sedang membuat kerajinan tangan dari sisa-sisa kain industri tekstil.

”Mereka belajar dari nol besar. Kami butuh setahun untuk membuat anak mahir menjahit lurus. Tahun depan baru mulai membuat kerajinan dari bahan dasar limbah tekstil” tutur Guru Bina Keterampilan SMP Terbuka Ita Rahmawati.

Perempuan beranak satu itu mengatakan, 25 siswanya memang sengaja dibekali pendidikan keterampilan. Kebanyakan siswa SMP Terbuka ketika lulus tidak melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Bahkan tak sedikit yang memilih ingin menjadi pembantu rumah tangga.

”Rasanya prihatin. Bantuan blockgrant dari pemerintah kami kembangkan untuk membuat keterampilan hasta karya mengolah limbah kain menjadi barang layak jual. Kami ingin mereka setelah lulus bisa bekerja mandiri,” ucap Ita.

Ita mengaku bangga dengan perkembangan dan kemandirian siswa yang kurang beruntung itu. Bahkan, perempuan 39 tahun itu mengapresiasi prestasi nasional dalam ajang lomba.

”Tahun 2010 dan 2011 kami menyabet juara 3 nasional kriya tekstil. Ini sebuah jawaban bahwa siswa terbuka tidak lebih rendah dari sekolah reguler,” terangnya.

Hingga 2016, sudah ribuan produk yang terjual ke luar sekolah. Banyak limbah tekstil yang telah disulap menjadi tas mukena, tas laptop, gorden, taplak meja, sajadah, sarung bantal kursi, wadah tisu dan banyak lagi.

”Keunggulannya yakni jahitan teknik quilting dan kain aval gray yang ketika dicuci akan semakin bersih. Saya berani jamin, tas yang dijual di Jalan Malioboro tidak sekuat dan sebaik ini,” ucap Ita sambal menunjukkan tas laptop.

Perempuan yang bertempat tinggal di Desa Sidoagung, Kecamatan Tempuran itu mengatakan 10 persen dari hasil penjualan dikembalikan kepada siswa. Hal itu dimaksudkan untuk lebih memotivasi siswa untuk lebih giat dalam belajar.

Source http://radarsemarang.com http://radarsemarang.com/2016/02/29/lebih-bagus-dari-dagangan-di-malioboro/2/
Comments
Loading...