Kerajinan Lipat Amplop Rumahan Di Tanah Abang

0 138

Kerajinan Lipat Amplop Rumahan Di Tanah Abang

Di sebuah rumah sempit, dua orang perempuan asyik melipat amplop. Sesekali perhatian mereka teralih, menarik potongan-potongan kertas dari tumpukan yang belum dilipat. Sesekali juga mereka mengikat dan menyusun kartu-kartu yang sudah dilipat dalam kotak -kotak kayu di hadapan mereka.

Yah kerjanya santai mas, bisa sambil nonton atau melayani pembeli,” ujar Tuti yang kebetulan juga membuka kios kelontong kecil di depan rumah mereka. Sehari sebelumnya  Tuti dan Teti mendapatkan borongan melipat 8.000 bungkus kartu pesanan anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) yakni Telkomsel.

Sudah 13 tahun Tuti dan Teti menjalani pekerjaan sampingan sebagai pelipat kartu voucher telepon seluler. Semua berawal pada suatu hari di tahun 2000. Tuti mengantarkan  anak bungsunya ke taman kanak-kanak.

Sambil menunggu anaknya di TK, Tuti melihat sekumpulan ibu-ibu yang sedang asyik melipat kartu perdana Telkomsel. Karena penasaran, ia bergegas mencari tahu apa yang sedang dilakukan perempuan-perempuan itu.

Setelah ngobrol sebentar, Tuti akhirnya diajak untuk ikut bekerja sambilan melipat kartu-kartu voucher perdana telepon seluler.

“Enak lho, jadi, waktu antar anak ke sekolah, sambil lipat sambil nunggu, buat ngisi waktu senggang, masih ada lowongan lho,” ujar Teti mengulang ucapan temannya kala itu. Akhirnya, ia diantar temannya mendaftarkan diri ke PT Kreasi Prima, sebuah perusahaan percetakan yang punya tender memproduksi amplop kartu perdana.

Kawasan sekitar Jalan Lontar Raya, Kebun Melati, Tanah Abang sejak lama memang menjadi sentra industri percetakan skala kecil. PT Kreasi Prima yang punya proyek lumayan besar dan mempekerjakan warga.

Kakak beradik Tuti dan Teti adalah satu di antara 702 pekerja rumahan di Kelurahan Kebon Melati, Tanah Abang. Selain melipat bungkus kartu voucher perdana Telkomsel, LSM Homenet Indonesia pernah mendata dan mencatat warga di RW 14, kelurahan Kebun Melati itu juga bekerja memasang payet kerudung dan gasper tali bra, semuanya dilakukan di rumah. Seingat Tuti ada 150 orang ibu -ibu dan perempuan muda pelipat kartu voucher perdana Telkomsel di RW 14 Kelurahan Kebon Melati Tanah Abang.

Menurut International Labour Organization (ILO), pekerjaan rumahan jenis ini hanya mengejar upah semata. Dalam praktiknya, pekerja rumahan acap kali tak mendapat fasilitas berupa peralatan yang mereka gunakan.

Pekerja informal ini juga menerima upah berdasarkan borongan atau volume pekerjaan, bekerja hanya berdasarkan perjanjian lisan. Poin pentingnya, mereka tidak punya posisi tawar untuk turut menentukan upah.

Tidak ada perjanjian atau kontrak resmi dalam pekerjaan ini. Teti mengingat sekitar tahun 2004 dirinya dan perempuan-perempuan pelipat kertas lainnya pernah diminta menandatangani selembar dokumen dari perusahaan percetakan itu. Teti tidak bisa memastikan apakah dokumen tersebut kontrak kerja atau bukan. Setelah ditandatangani, dokumen itu dikembalikan pada pegawai Kreasi Prima. Ia juga tidak pernah menyimpan dokumen tersebut untuk dirinya.

Source https://fokus.kontan.co.id https://fokus.kontan.co.id/news/kisah-pekerja-rumahan-pelipat-amplop-telkomsel
Comments
Loading...