Kerajinan Lukisan Di Kampung Pelukis Bandung

0 271

Kerajinan Lukisan Di Kampung Pelukis Bandung

“Selamat Datang di Kampung Seni dan Budaya Jelekong.” Tulisan di gapura beratap genteng itu menyambut siapa pun yang memasuki Jalan Jelekong, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Gapura itu berada dekat dengan pangkalan ojek sepeda motor dan kediaman mantan pedalang wayang golek tersohor, Asep Sunandar Sunarya.

Berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat kota Bandung atau berjarak tempuh 60-90 menit, perbukitan hijau melatari daerah yang terkenal pula sebagai kampung pengrajin lukisan. Nuansa kampung pelukis segera terasa dalam jarak setengah kilometer dari gapura tadi.

Kanvas-kanvas panjang mengapit jalan aspal selebar dua kendaraan. Dua orang lelaki dewasa bergantian memulas kanvas itu dengan cat tembok berwarna putih. Keduanya memakai topi agar kepala dan wajahnya tidak langsung tersengat terik matahari, menjelang tengah hari itu, seorang pelukis muda ditemani kawannya yang masih berseragam Sekolah Menengah Pertama, duduk tenang sambil bersila.

Di dalam bangunan berdinding pagar bambu, ia melukis aneka buah. Awalnya sapuan kuasnya membentuk pola dasar berupa lingkaran kecil dan besar dengan warna utama buah. Merah untuk rambutan, atau ungu buat anggur. Setelah itu baru sentuhan rincian seperti rambut atau kilatan sinar yang membuat buah terkesan segar. Di sekeliling ruangan, aneka lukisan seperti bunga, pemandangan alam, tergantung atau berdiri di lantai siap dijual.

Lukisan yang telah jadi dan sebagian telah dibingkai, juga bergantungan di rumah seberang yang bagian sampingnya dijadikan seperti toko lukisan. Pun warung nasi tetangganya. Dinding warung dan tembok rumah pelukis bernama Cecep itu, penuh terisi lukisan berukuran setengah pintu dan agak lebih kecil dari itu.

Selain gambar pemandangan alam, Cecep dan keluarganya juga menjajakan hiasan dinding berupa kaligrafi. “Kalau itu pengrajinnya di Jawa Tengah, di Jelekong hampir tidak ada yang membuat lukisan kaligrafi,” kata lelaki berkacamata itu yang juga pengusaha mobil sewaan.

Belasan langkah ke selatan, lima pelukis lain yang semuanya lelaki, tengah bekerja di kediaman Ajang Suyatna (52). Deden (45), dan kawan-kawan seprofesi, bekerja di ruangan berukuran sekitar 20 meter persegi.

Studio lukis yang sederhana itu terkesan kumuh oleh bekas sapuan cat dari kuas yang menempel di tembok, lantai, kusen jendela dan pintu, serta tiang kayu. Tanpa perabot, gelas-gelas kopi bertebaran di lantai di sela kaleng dan plastik cat serta kain gombal tebal.

Kain itu menjadi tempat mengelap kuas sebelum berganti cat. Asap rokok mengebul di ruangan yang nyaris tanpa obrolan itu. Semua pelukis seperti larut di depan kanvasnya masing-masing. “Sehari bisa ada yang lima sampai delapan lukisan selesai,” kata Deden. Biasanya lukisan yang bisa digarap dengan cepat itu berukuran 80 x 60 sentimeter persegi.

Beberapa pelukis mengaku, mereka biasanya bekerja dengan satu kekhususan gambar. Misalnya ada yang langganan melukis bunga-bungaan, ikan koi, pemandangan alam, atau suasana pasar tradisional dengan teknik palet. “Bos yang mengatur pembagiannya. Kamu mengerjakan lukisan ini,” kata Deden.

Para pelukis juga mengaku bisa mengerjakan gambar selain kebiasaannya. Tapi itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Sementara waktu produksi dan tenggat setoran ke bandar mengalir cepat. Maka tak heran jika para pelukis Jelekong umumnya tidak memiliki karya miliknya sendiri, karena waktu dan tenaganya seakan habis untuk proses produksi. Para pengrajin itu ibarat mesin pabrik manual industri lukisan rumahan yang tersebar di Jelekong.

Pengalaman melukis mereka ada yang dimulai sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Karena itu ada yang sudah belasan hingga 20-an tahun sebagai pelukis. Kebanyakan telah terlatih dengan belajar mandiri, tanpa pendidikan formal seni lukis, dan sanggup mengerjakan banyak lukisan sesuai spesialisasinya.

Memang tidak semua pelukis Jelekong bekerja borongan seperti itu. Cecep misalnya, membuat lukisan yang dinilainya lebih berkualitas. Dengan corak gambar serupa seperti pemandangan yang umum digarap pelukis Jelekong, ia berani menetapkan harga berkisar Rp300-800 ribu per karya termasuk bingkainya.

Suatu ketika, ada calon pembeli yang datang dan lukisannya ditawarkan Rp650 ribu. “Dia bilang mau lihat lukisan di tempat lain. Dari rumah seberang, pulangnya dia bawa lukisan, harganya Rp350 ribu,” katanya menahan dongkol.

Lain waktu beberapa tahun lalu, ada tamu dari luar kota yang ingin membeli lukisan Jelekong. Ia kukuh menganggap semua lukisan di sana berharga Rp15 ribu seperti yang dilihatnya di berita televisi. “Dulu memang ada yang harga segitu, tapi tidak semua tergantung kualitasnya,” kata Cecep.

Namun ia memaklumi orang awam bakal susah membedakan mana lukisan kerajinan yang berharga rendah atau menengah, sesuai kualitas dan material seperti cat maupun kanvas yang dipakai. Praktik banting harga atau penjualan semurahnya seperti itu lumrah terjadi. Biasanya dengan dalih butuh uang.

Harga lukisan jelekong ukuran 60 x 80 sentimeter beragam sesuai kualitas dan cat yang dipakai. Harga terendah yang bisa diborong bandar bisa Rp27.500 per lembar. Namun ada juga bos pelukis yang membanderol harga terendah Rp50-75 ribu. Ukuran 100 x 35 sentimeter bisa Rp120 ribu, dan masih terbuka untuk negosiasi.

Source https://beritagar.id https://beritagar.id/artikel/laporan-khas/pergulatan-setengah-abad-di-kampung-pelukis-bandung
Comments
Loading...