Kerajinan Lukisan Kaca Di Bantul

0 161

Kerajinan Lukisan Kaca Di Bantul

Seni lukis kaca saat ini mungkin bukan seni yang banyak diminati masyarakat. Tetapi pada akhir abad ke-18 sampai ke-19, karya ini merupakan karya seni yang populer.  Tak hanya dimiliki oleh orang kaya dan  kalangan ningrat saja, masyarakat kebanyakan pun banyak memilikinya. Peneliti Prancis Jerome Samuel memaparkan penelitiannya selama belasan tahun tentang karya ini.

“Ini karya yang populer, semua kalangan memilikinya. Memang tergantung ukurannya,” ujar Samuel saat memaparkan penelitiannya di auditorium Institut Prancis di Indonesia (IFI). Dia memaparkan penelitian tentang karya lukis kaca ini dari diskusi yang digelar IFI bekerja sama dengan Lembaa Prancis untuk Kajian Asia Tenggara (EFEO).

Untuk kalangan bangsawan, terpelajar atau orang kaya biasanya memilih lukisan dalam ukuran yang besar. Sedangkan rakyat jelata biasanya memilih dalam ukuran yang kecil. Rakyat Jawa, khususnya di sekitar  Solo- Yogyakarta datang ke kota itu untuk membeli lukisan kaca itu. “Harganya terjangkau untuk masyarakat saat itu, ada data harga berapa sen atau gulden,” ujarnya.  Samuel juga menjelaskan pengumuman di sebuah koran yang menemukan tulisan lukisan kaca yang ketinggalan di gerbong dan dilelang.

Direktur Pusat Studi Asia Tenggara di Prancis (CNRS-EHES-INALCO) ini menjelaskan  pada abad 18-20, diperkirakan jumlahnya mencapai jutaan keping. Dia mengasumsikan dari jumlah penduduk saat itu dari data sensus Belanda. Lukisan kaca ini diperkenalkan oleh para pelukis Eropa dan Cina. Di nusantara kemudian dikembangkan dengan corak dan tema lokal dan percampuran budaya seperti Jawa, Eropa, Cina dan Muslim. Mereka memajang lukisan itu sebagai simbol status, tolak bala dan hiasan.

Ia mengakui penelitian tentang lukisan kaca ini baik di Eropa maupun di Indonesia masih sangat sedikit. Data awal tentang lukisan kaca ini diperoleh dari log book penjelajah Jerman yang menulis tentang Sultan Sumenep yang mempunyai hobi melukis kaca pada 1850. Penelitian pertama dilakukan oleh Hooykas –van Leeuwen Boomkamp, pada 1930 yang menggambarkan situasi kerajinan lukisan kaca di Yogyakarta saat itu. Data berikutnya banyak dijelaskan oleh peneliti Jepang yang dipimpin Seichi Sasaki pada 1980.

Lalu diteruskan dari penelitian Eddy Hadi Waluyo tentang revitalisasi lukisan kaca di Yogyakarta, Solo, Cirebon dan Buleleng Bali untuk periode 1980-2000. Ia mendapatkan foto-foto lukisan kaca dan lukisan lalu mengkategorikannya berdasar tema lukisan. Cukup menarik melihat keragaman tema-tema lukisan kaca ini. Lebih dari 90 persen data yang dikumpulkan, kata dia, karya tersebut tidak bertanggal dan anonim.

Source https://seleb.tempo.co https://seleb.tempo.co/read/866044/lukisan-kaca-seni-populer-rakyat-yang-tenggelam/full&view=ok
Comments
Loading...