Kerajinan Lukisan Karya Difabel Di Purwodadi

0 232

Kerajinan Lukisan Karya Difabel Di Purwodadi

Pantang menyerah dan terus berusaha, kalimat tersebut dipegang teguh oleh Salim Harama, seorang pelukis dengan menggunakan kaki. Hidup tanpa sepasang tangan, tak membuat Salim Harama menyerah dan putus asa. Justru dari kedua kakinya lahirlah lukisan-lukisan menawan.

Pria kelahiran 27 Juli 1968 ini harus kehilangan sepasang tangannya paska mengalami kecelakaan. Salim kecil yang masih duduk di kelas empat SD kala itu menjadi korban kecelakaan kereta api. Kedua tangannya terpaksa diamputasi karena telatnya penanganan dan kurangnya biaya.

Kuas dipegangnya menggunakan kaki kanan. Goresan-goresan cat pun disapukan ke kanvas yang di dalamnya terdapat gambar beberapa karakter manusia, tangan, sebuah amplop coklat dan tulisan demokrasi berwarna putih. Sesekali kaki Salim mencelupkan kuas ke cat acrylic yang sudah disiapkannya. Penuh konsentrasi, Salim mencoba merampungkan lukisan tersebut.

Salim pertama kali berhijrah selepas kelas 2 SMA. Salim yang mendapatkan bantuan beasiswa dari salah satu yayasan di Yogyakarta ini akhirnya harus meninggalkan rumahnya di Purwodadi, Jawa Tengah, dan pindah ke Yogyakarta demi meraih cita-cita saat itu yaitu menjadi pemandu wisata. Keinginannya menjadi pemandu wisata mengantarkan Salim ke Selandia Baru pada tahun 1991. Selepas SMA, yayasan yang menaunginya mengirim Salim ke Selandia Baru untuk belajar Bahasa Inggris. Salim pun selama setahun tinggal di sana.


Sepulangnya dari Selandia Baru, Salim diajak bekerja di yayasan tersebut. Salim kala itu menjadi penerjemah dan membantu administrasi. Berkenalan dengan dunia seni rupa bagi Salim adalah ketidaksengajaannya. Salim yang belum pernah melukis, di tahun 1995 saat sedang menemani pameran kerajinan di yayasannya bekerja, bertemu dengan seorang teman difabel. Oleh temannya itu, Salim disarankan untuk belajar melukis.

Salim pun makin tekun belajar melukis. Salim belajar dengan membaca buku dan didampingi oleh beberapa kawannya dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.  Salim kemudian makin mantap menempuh jalur seni lukis. Salim mencoba peruntungannya dengan bergabung ke Association of Mouth and Foot Painting (AMFPA). Untuk bergabung dengan asosiasi pelukis menggunakan kaki dan tangan yang berpusat di Swiss ini, Salim harus diuji. Salim diminta mengirim porto polio lukisan-lukisannya.

Dari hal melukis inilah, Salim Harama mampu membiayai keluarganya. Bahkan saat ini anak pertamanya sedang menjalani skripsi dan anak keduanya masih berada semester empat.

“Anak pertama kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Yogyakarta dan sedang skripsi. Anak kedua kuliah arsitektur di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Yogyakarta. Sekarang sudah semester empat,” pungkas Salim.

Source https://www.merdeka.com https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-inspiratif-salim-harama-melukis-dengan-kaki.html
Comments
Loading...