Kerajinan Lurik Di Cawas

0 114

Kerajinan Lurik Di Cawas

Kain lurik buatan tangan memiliki hasil yang lebih tebal dan halus dibandingkan dengan kain lurik buatan mesin listrik. Untuk membuat sehelai kain lurik, diperlukan rangkaian proses yang tidak mudah.

Pertama-tama, helaian benang putih diwarnai dengan bubuk wenter dengan cara direbus selama setengah hari sebelum dibilas dan dijemur hingga kering.

Setelah kering, benang digulung berdasarkan warnanya atau yang bisa disebut juga proses klos. Proses selanjutnya adalah sekir atau penataan warna. Warna yang ditata disesuaikan dengan permintaan pelanggan.

Setelahnya, helaian benang dimasukkan satu per satu ke dalam lubang jarum. Proses yang disebut cucuk ini adalah proses yang paling sulit karena membutuhkan kejelian dan kesabaran.

Baru setelahnya benang dianyam atau ditenun menjadi larik kain lurik yang indah.


Selain bertandang ke rumah usaha lurik di Pedan, tim femina juga diajak oleh desainer senior Edward Hutabarat ke Desa Jatirejo, Cawas. Di sana kami diperkenalkan kepada Ibu Asmorejo yang sudah berusia 90 tahun.

Disebut-sebut sebagai maestro lurik, semangat Ibu Asmorejo menarik minat seorang Edward Hutabarat, yang akrab disapa Edo, yang telah mendampingi para pengrajin wastra sejak 20 tahun yang lalu.

Edo akan menggelar pameran fotografi dan instalasi yang akan dibuka dengan peragaan busana bertajuk Tangan-Tangan Renta di Plataran Ramayana, Hotel Indonesia Kempinski.

Lewat pameran yang akan digelar pada 23 – 28 Agustus 2017, Edo ingin menularkan semangatnya pada generasi muda, “Anak muda harus kembali dan mengenali akarnya. Karena sebuah karya, lebih layak dipersembahkan sebagai bentuk cinta ketimbang slogan semata.”

Source http://www.femina.co.id http://www.femina.co.id/fashion-trend/melihat-lebih-dekat-tangan-tangan-renta-pengrajin-lurik-bersama-edward-hutabarat?p=2
Comments
Loading...