Kerajinan Mainan Anak Di Demak

0 60

Kerajinan Mainan Anak Di Demak

Fakhrudin sejak lulus sekolah menengah atas. Dia harus bisa memenangi persaingan. Berbekal pengetahuan dan mesin serta jaringan pemasaran yang dimiliki ayahnya, Fakhrudin merasakan pentingnya sebuah regenerasi. Bukan sekadar meneruskan, melainkan terus mengembangkan supaya bisa memenangi persaingan.

Pada era perdagangan bebas, banyak orang waswas. Terlebih, produk China semakin merajalela memasuki pasar Indonesia, khususnya produk mainan anak. Namun, di tengah tumpukan produk mainan anak-anak yang dipasarkan di sekitar Asemka dan Pasar Gembrong, Jakarta, serta pusat mainan di kota-kota besar lainnya, produk bikinan Fakhrudin juga ikut memasuki pasaran.

Orang boleh bilang, mainan itu pasti ”made in China”. Diam-diam, Fakhrudin justru menunjukkan bahwa sesungguhnya ada mainan anak-anak yang diproduksi dari sebuah desa di perbatasan antara Kota Demak dan Kudus, Jawa Tengah.

Semua itu berawal dari bisnis ayahnya, Mahmudi, yang tiada henti memproduksi bola plastik. Melewati jatuh bangun memasarkan produk, sesekali ditipu distributor nakal, Fakhrudin mempelajari teknik memasarkan. Tahun 1980-an, transportasi di daerah Demak menjadi kendala besar. Banjir menyebabkan sistem transportasi terhambat.

Bisnis haruslah tetap jalan. Kebetulan saat itu ada sebuah pusat belanja di Kota Kudus yang baru berdiri. Ayahnya membeli sebuah kios untuk dagangan. Namun, lagi-lagi cuma bola plastik yang dijual.

Karena sejak di bangku sekolah dasar kerap main ke toko itu, Fakhrudin setelah lulus SMA merasa sayang kalau cuma dagang bola plastik. Ide awalnya hanyalah memasok mainan produksi China. Namun, keinginannya berkembang untuk bisa mengembangkan sendiri mainan produksi sendiri.

Alhasil, tahun 2004, berbekal dua mesin pencetak mainan plastik, anak kedua dari tiga bersaudara itu dilatih oleh pemasok mesin tentang kegunaan hingga cara kerja mesin tersebut. Hanya seminggu, Fakhrudin mencoba mengembangkan sendiri selama enam bulan. Mesin itu dibeli dari sebagian penghasilannya ikut bekerja pada ayahnya.

Dari dua mesin, kini dia telah memiliki delapan mesin. Ada pula mesin pencacah plastik bekas untuk mempermudah proses produksi. Mesin pencetak mainan tetaplah produk China yang dikenal murah dan bagus. Lambat laun, mesin cetak sekarang sudah bisa diproduksi di Indonesia.

”Yang terpenting, setiap memproduksi satu mainan, saya coba menghitung, mulai dari bahan baku, spesifikasi produk, hingga prospek bisnisnya. Jadi, bisa ketahuan biaya produksinya. Kalau satu produk tidak kompetitif harganya, ya sebaiknya tidak nekat bikin. Bukannya untung, eh, malah buntung,” kata Fakhrudin.

Menurut dia, secara prinsip, sebelum produksi dilakukan, penghitungan harus dilakukan secara cepat dan detil. Kalau biaya produksi, termasuk komponen bahan baku khusus yang harus diimpor dari China, bisa kompetitif, barulah mainan itu diproduksi. Kalau biaya produksi terlalu mahal, produk yang lain saja yang perlu dijajaki.

Meski sudah menjadi pemilik pabrik, Fakhrudin tak enggan mencermati fluktuasi harga dan kualitas bahan baku. Plastik bekas itu diperoleh dari pemulung yang dikumpulkan oleh lapak kecil, kemudian disatukan oleh lapak besar. Setelah diseleksi, bahan baku itu digiling menjadi biji-biji plastik siap produksi.

Untuk mengetahui biaya produksinya, Fakhrudin mengaku tidak semua bahan baku bisa dipercayakan kepada pihak penggilingan. Pihaknya juga melakukan penggilingan untuk menjaga kualitas. Soalnya, plastik sangat spesifik. Kadang penggiling juga curang dengan mencampurkan bahan baku plastik bagus dengan yang jelek.

”Lewat uji kualitas, kita bisa mengetahui harga bahan baku yang dipatok antara Rp 3.000 dan Rp 10.000 per kilogram. Tentu, harga ember plastik bekas yang berwarna hitam dan ember warna yang sudah kusam lebih murah dibandingkan ember yang masih berwarna cerah,” ujar Fakhrudin.

Di dalam pabrik itu, ribuan mainan anak tampak sedang dirangkai dan dikemas. Ada truk kecil, mobil-mobilan, telepon seluler, hingga truk besar yang bisa diduduki oleh anak di bawah berat badan 30 kg. Ada juga truk mobil balap Tamiya. Walau kemasan masih mendompleng ”made in China” demi kepercayaan konsumen, Fakhrudin sebagai anak muda merasa bangga karena bisa membuka lapangan pekerjaan bagi sekitar 200 orang dari lingkungan desanya.

Perdagangan bebas membuka persaingan antara produsen dan importir alias pedagang. Sudah menjadi rahasia umum, seorang importir hanya mengeluarkan biaya impor untuk kontainer 40 kaki sekitar Rp 80 juta. ”Hanya Rp 80 juta, ditambah biaya distribusi, aneka macam produk mainan anak bisa lolos ke pasaran,” kata Fakhrudin.

Pengalamannya bolak-balik ke China untuk sekadar kulakan komponen atau mencari prototipe mainan anak, Fakhrudin, yang membekali kemampuannya berbahasa Mandarin di Universitas Dian Nuswantoro, mengakui bahwa mainan baru bisa sekitar 500 jenis. Tidak semua produk China murah.

Mengapa mainan China yang dijual di Indonesia umumnya murah? Dia memandang, semua importir tak ubahnya seorang bakul mainan. Mereka hanya memilih mainan yang murah dan kelihatan bagus supaya cepat laku. Jadi, bisa cepat kulakan lagi. Di Shantao, Provinsi Guanzhou, sekitar 40 persen dari satu kabupaten itu memproduksi mainan anak-anak.

Menurut Fakhrudin, kunci menghadapi persaingan adalah inovasi. Dalam enam bulan, target minimalnya adalah menciptakan produk baru sebanyak lima buah. Semua produk sebetulnya tidak berada dalam inovasi murni. Yang ada dalam produksi mainan anak-anak adalah pengembangan sedikit dari produk yang ada.

Tak heran, dia kini gencar memproduksi truk dengan enam roda kecil yang dilengkapi dengan bak kecil serta dipadu backhoe (pengeruk pasir) dan telepon seluler mainan. Modalnya sedikit, tapi harga jualnya tetap menggiurkan.

Source https://indonesiaproud.wordpress.com https://indonesiaproud.wordpress.com/2010/09/14/fakhrudin-mainan-anak-buatannya-dikira-made-in-china/
Comments
Loading...