Kerajinan Masker Kain Di Jakarta

0 136

Kerajinan Masker Kain Di Jakarta

Meningkatnya kandungan polusi di udara di kota-kota besar mendorong pertumbuhan permintaan terhadap masker kain. Tak jarang banyak orang yang menjajakan masker tersebut di beberapa tempat.

Karena selalu digunakan, banyak juga orang yang menginginkan masker yang dimilikinya tetap trendi dan bergaya. Dengan begitu, tak jarang orang memburu masker dengan desain yang sesuai keinginan.

Yang pasti, permintaan terhadap masker kain biasa maupun masker dengan desain unik tersebut menjadi peluang bisnis yang menjanjikan bagi para produsen masker. Tentunya, dengan pangsa pasar yang terus meningkat.

Muhammad Ibnul Maulana, salah seorang yang melirik peluang tersebut dan menjadikan sebagai bisnis sampingan yang cukup menguntungkan. Meskipun tanpa modal, dia bisa mendapatkan omzet jutaan rupiah tiap bulannya.

Pria yang disapa Ibnul ini mengawali bisnisnya sejak 2013. Dia bersama rekannya melihat ada peluang yang besar di bisnis pembuatan masker, apalagi mereka hidup di Jakarta yang notabene banyak polusi udara.

Ibnul beruntung, karena memiliki rekan yang bisnis di dunia konveksi. Dia bisa mendapatkan modal awal berupa kain perca dengan percuma. Karena pembuatan masker hanya membutuhkan sedikit kain, maka kain-kain limbah sisa konveksi bisa dia manfaatkan.

“Saya ditawari rekan limbah kain sebanyak 10 kilogram, itu bisa digunakan untuk membuat masker dalam jumlah banyak,” katanya.

Dia pun mulai belajar menjahit dan mencoba membuat masker kain satu per satu dengan modal sebuah mesin jahit. Akhirnya dia mulai terampil dan mampu memproduksi masker sendiri.

Proses pembuatannya juga cukup sederhana, dimulai dengan memotong kain sesuai dengan pola masker, kemudian memadukan dan menjahit dua kain untuk lapisan luar dan lapisan dalam, setelah itu dipasangi dengan tali untuk menggunakan masker.

“Masker awal hanya dibuat dengan dua lapisan kain, yang lapisan luar biasanya bermotif dan lapisan dalam yang menempel ke muka polos,” katanya.

Semakin berjalannya waktu, Ibnul terus memperbaiki kualitas produknya, saat ini dia juga membuat masker yang bagian dalamnya ditambahi busa sebagai filter tambahan untuk menyaring udara kotor.

Dalam sehari, Ibnul mampu memproduksi hingga 12 lusin masker di sela-sela kesibukannya bekerja di tempat lain. Masker-masker tersebut dijual dengan kisaran harga Rp5.000-Rp10.000 per buah, tergantung bahan yang digunakan.

“Untuk pembelian eceran kami juga berikan diskon, misalnya untuk masker seharga Rp5.000 kami jual hanya Rp10.000 untuk pembelian tiga buah,” katanya.

Dia juga memberikan harga khusus bagi pembelian dalam partai besar. Untuk pembelian minimal satu lusin, hanya dihargai sebesar Rp20.000-Rp25.000.

Belum lagi jika ada pesanan khusus dalam jumlah besar, harga yang ditawarkannya juga bisa lebih murah. Belum lama ini dia menerima pemesanan 2.000 masker bagi karyawan pabrik di daerah Kalideres, Jakarta Barat.

Selain itu, masker kain tersebut juga seringkali digunakan sebagai suvenir pernikahan dengan desain sablon yang bisa disesuaikan. Syarat minimal pemesanan untuk kebutuhan ini adalah 12 lusin, dan konsumen bisa mendapatkan masker seharga Rp2.500 per buahnya.

“Penggunaan warna sablon dan jenis bahan juga memengaruhi harga, dan untuk pengerjaannya membutuhkan waktu setidaknya satu pekan,” katanya.

Selama ini, Ibnul memasarkan produknya secara online, baik melalui akun media sosial, forum jual beli online, dan website maskerlucu.com. Dia menilai pemasaran dengan cara tersebut relatif lebih efektif dan menghemat tenaga kerja ketimbang dia membuka kios sendiri.

“Sebelumnya saya pernah membuka kios di daerah Tambora, Jakarta Barat, tapi terpaksa tutup karena tidak ada orang yang menjaga,” paparnya.

Agar produknya semakin dikenal di pasaran, Ibnul memiliki cita-cita untuk melakukan kampanye pemberian masker gratis di lampu merah, juga membagikan masker bagi petugas kebersihan di Jakarta.

Masker yang dibagikan tersebut juga dijadikan sebagai media promosi dengan menyantumkan alamat website maskerlucu.com, sehingga masyarakat bisa mengakses dan mendapatkan informasi terkait jasa produksi maskernya.

“Kami berencana untuk segera melaksanakan cita-cita tersebut, setelah kapasitas produksi masker bertambah, karena sekarang hanya saya saja yang mengerjakannya,” katanya.

Ibnul percaya, bisnis yang digelutinya saat ini akan terus berkembangan ke depannya. Terutama dengan kondisi lingkungan yang semakin tercemar, membuat banyak orang ingin melindungi dirinya sendiri.

Source https://entrepreneur.bisnis.com https://entrepreneur.bisnis.com/read/20150411/263/421697/peluang-bisnis-dari-pembuatan-masker-kain-rumahan
Comments
Loading...