Kerajinan Mebel Bambu Di Banjarmasin

0 367

Kerajinan Mebel Bambu Di Banjarmasin

Samsul lahir di kampung perajin mebel bambu di Medan. Merantau ke Kalimantan, ia beralih ke pekerjaan lain. Kerinduannya pada aroma dan tekstur bambu mengajaknya kembali pada pekerjaan lama.

Rumahnya di Kompleks Mutiara VII Sungai Andai, Samsul masih terlihat sibuk memotongi batang bambu dengan ukuran tertentu.

Samsul memanfaatkan halaman depan rumahnya sebagai bengkel kerja. Kecil tapi cukup layak. Beralaskan kain tebal, dia duduk di atas bangku kecil. Tangannya dengan lincah memainkan pisau. Meraut potongan-potongan bambu yang sudah dibelah tipis. Yang nantinya dipakai untuk menjadi lantaian kursi.

Samsul lahir di Kampung Alang, Medan, pada 29 Januari 1981. Kerajinan bambu sudah ia kecil sejak remaja. Maklum, di Kampung Alang memang banyak tinggal perajin mebel bambu. Tahun 2015, ia coba merantau ke Balikpapan, Kaltim.

Selama tinggal di kota minyak itu, Samsul bekerja di sebuah perusahaan konstruksi. Setahun bekerja, Samsul mulai jenuh. Ia sering termenung, kangen dengan pekerjaan lamanya. Niatnya untuk kembali membuat mebel bambu ternyata didukung sang istri tercinta, Kartika.

Setelah membulatkan tekad, mereka pindah ke Banjarmasin. “Kebetulan istri asli orang Banjarmasin. Katanya di sini masih jarang orang menjual mebel bambu,” kisah ayah dari lima anak ini.

Selama 10 bulan menetap di Banjarmasin Utara, disebutkannya, sudah 200 unit mebel yang dibuat. Jenisnya macam-macam. Dari kursi teras, kursi tamu, kursi makan, meja, buffet sampai gazebo.

Pilihan Samsul memang tak keliru. Dia menikmati pekerjaan ini dan terbilang lihai. Cukup sekali melihat sebuah produk mebel, ia sudah bisa menirunya. Atau meladeni permintaan klien yang memesan mebel dengan variasi model ini-itu.

Biasanya, untuk pesanan mebel yang tergolong mudah, tak sampai dua hari sudah beres ia kerjakan. Pesanan yang agak rumit atau cerewet, setidaknya butuh waktu tiga hari pengerjaan.

Perihal teknik penjualan, cukup unik. Karena memadukan gaya tradisional dan modern. Pertama, menjajakan mebel dengan mendorong gerobak berkeliling kota. Kedua, mengandalkan promosi via media sosial.

Per bulan, rata-rata bisa terjual 20 unit mebel. Per unit dihargai Rp350 ribu sampai Rp540 ribu. Harga ditarif sesuai tingkat kesulitan pembuatan. “Untungnya sekitar Rp100 ribu per unit. Yah sama saja dengan honor buruh bangunan,” ujarnya merendah.

Cara penjualan yang dilakukan Samsul dengan dua cara. Pertama menjajakan dengan menggunakan gerobak berkeliling kota Banjarmasin dan melalui media sosial. Rata-rata setiap bulan 20 unit berhasil dijual. Harga per unit antara Rp350 ribu – Rp450 ribu, tergantung tingkat kesulitan pembuatannya. “Untungnya paling Rp100 ribu per unit, sama dengan gaji buruh per hari lah,” ucapnya sambil tersenyum.

Selain mampu bekerja sesuai pesanan klien, produk Samsul juga unggul karena terbilang tahan lama. Dia memiliki trik khusus agar bambunya tak mudah rusak dimakan rayap. “Saya jamin bambunya tidak menjadi bubuk. Karena sudah dikasih obat khusus,” ujarnya yakin.

Sejauh ini tidak ada kendala serius yang dihadapi Samsul dalam merintis usahanya. Bahan baku seperti bambu dan rotan yang digunakan sebagai pengikat mudah ditemukan di Banjarmasin. “Paling-paling banjir. Kalau air sungai sedang pasang, halaman rumah sering terendam,” ujarnya tergelak.

Bahkan dari hari ke hari tampaknya pelanggannya sudah mulai bertambah. Karena itu, dia berniat untuk mengembangkan usaha mebel bambu ini.“Saat ini masih bisa dikerjakan seorang diri. Tapi kalau nanti pesanan sudah terlalu banyak, saya berniat memanggil saudara di kampung untuk datang membantu,” pungkasnya

Source http://kalsel.prokal.co http://kalsel.prokal.co/read/news/14069-kerajinan-mebel-bambu-padukan-gerobak-dan-medsos-untuk-jualan.html
Comments
Loading...