Kerajinan Miniatur Autoart Di Tulungagung

0 216

Kerajinan Miniatur Autoart Di Tulungagung

Limbah mebel kayu jati, biasa digunakan untuk kayu bakar dengan harga yang murah. Namun di tangan dua pemuda di Tulungagung, dapat dijadikan hasil seni yang bernilai ekonomis tinggi, yakni dibuat kerajinan miniatur auto art, atau miniatur alat transportasi.

Menempati teras di samping rumah Benny Mardiono dan Andhika Trisaputra  warga desa Tawangsari , Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, berkreasi memanfaatkan limbah mebel kayu jati yang biasa digunakan untuk kayu bakar. Menjadi sebuah kerajinan yang bernilai ekonomis tinggi. Dari limbah mebel kayu jati , seharga Rp 1 juta per pick up inilah, dua pemuda sejak satu tahun lalu  menyulapnya menjadi hasil seni miniatur auto art, atau miniatur alat transportasi.

Kayu jati dengan bentuk dan ukuran tidak sama, dipilih sesuai produk kerajinan yang akan di buat. Keduanya tengah mengerjakan pesanan miniatur pesawat perang kuno, Arado AR 195 tahun 1937, buatan Rusia . Untuk menjadikan miniatur yang sempurna, melalu beberapa tahapan pengerjaan, penghalusan permukaan kayu sebelum di mal, di potong, serta komponen miniatur dihaluskan kembali.

Meski seluruh pengerjaan menggunakan alat-alat yang sederhana, miniatur alat transportasi, buatan Benny dan Andhika ini sangat lain dari kerajinan serupa yang lain. Pasalnya bila produk kerajinan yang ada di galeri-galeri, atau rumah souvenir saat ini, hanya berupa fisik saja, sementara produk dari keduanya juga menyajikan detail-detail dari produk miniatur auto art, yakni detail mesin. Pintu dibuat sesuai aslinya, bisa buka tutup, dan roda dapat dibelokkan , sehingga proses pengerjaannya membutuhkan waktu 2 minggu hingga 3 bulan.

Tidak hanya mengerjakan miniatur pesawat tempur kuno dan antik, Benny dan Andhika, juga mampu mengerjakan berbagai macam pesanan miniatur moda transportasi, yang dikerjakan secara detail, rapi, dan teliti.

“Sedangkan untuk pemasarannya, masih mengandalkan pesanan komunitas miniatur mobil, secara on line. Bahkan mendapat pesanan dari luar negeri kami tolak, karena masih minimnya SDM sehingga khawatir tidak mampu penuhi target pesanan,” kata Benny.

Produk-produk kerajinan Benny dan Andhika, seperti pesawat tempur kuno , mesin bajak sawah, vespa, dan kapal layar, harganya tergolong relatif mahal. Mulai dari harga Rp 200 ribu hingga lebih dari Rp 5 juta rupiah per unit. Karena proses pengerjaannya yang sangat detail, serta perlu perhitungan yang matang, sehingga kerajinan yang dibuat mirip dengan aslinya juga dilengkapi diskripsi produk miniatur.

Selain dihadapkan dengan persoalan SDM  dan referensi saat ini perajin miniatur alat transportasi ini, juga dihadapkan persoalan untuk mematenkan hasil produknya. Sehingga perajin lain tidak sembarangan menjiplak. Untuk mengembangkan kerajinannya, perajin ini berharap bantuan dari pemerintah, namun tak kunjung datang

Source http://www.pojokpitu.com http://www.pojokpitu.com/baca.php?idurut=22427&&top=1&&ktg=&&keyrbk=.Rehat&&keyjdl=perajin
Comments
Loading...