Kerajinan Miniatur Di Desa Brangkal

0 111

Kerajinan Miniatur Di Desa Brangkal

Menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, dapat memberi dampak ganda bagi seseorang yang memiliki jiwa wirausaha kreatif.

Pribadi itu dimiliki Slamet Widodo yang akrab dipanggil Widodo, seorang lelaki asal Desa Brangkal, Kec. Karanganom, Kab. Klaten, yang hasil karyanya berupa miniatur mobil klasik, sepeda motor, kereta api, pesawat terbang, kapal laut dan lain-lain, menjadi buruan banyak orang.

Sosok pribadi Widodo yang bersahaja, sekilas tidak menampakkan diri sebagai seorang kreator yang terampil menciptakan karya seni bernilai ekonomi tinggi.

Lelaki kekar berperawakan 170-an sentimeter itu, di tahun 1990-an termasuk salah seorang TKI di Timur Tengah dan pada 1997 memutuskan mengakhiri kontrak kerja untuk merintis usaha mandiri.

Dengan modal Rp 5 juta yang dia sisihkan dari hasil bekerja di Timur Tengah, Widodo merintis usaha kerajinan kayu mainan anak-anak yang berbentuk miniatur mobil, motor dan lain-lain, dengan merk dagang “Shelly Handycraft” yang diambil dari nama anak perempuan pertamanya.

“Di daerah Klaten banyak limbah kayu dari industri mebel. Saya berpikir, limbah itu bisa dirangkai untuk membuat mainan anak-anak. Saya meniru bentuk mobil-mobilan mainan anak-anak sebagai model. Ternyata berhasil dan sekarang sudah berkembang menjadi 60-an model mainan anak-anak,” ujarnya kepada wartawan, di bengkelnya bekas bangunan SD Inpres, Desa Brangkal, akhir pekan lalu.

Pasar hasil kerajinan limbah kayu yang diciptakan Widodo, menurut ayah dua anak itu sudah merambah seluruh Indonesia. Bahkan, ada pembeli dari dua negara di Timur Tengah, yakni Turki dan Iran yang memesan hasil kerajinan “Shelly Handycraft” berupa miniatur motor Harley Davidson.

Pembeli dari Turki dua tahun terakhir mengapalkan satu peti kemas miniatur Harley Davidson per tahun senilai Rp 120 juta dan Rp 150 juta, serta pembeli dari Iran pada 2014 dua kali membeli langsung miniatur Harley Davidson seharga Rp 60 juta.

“Pengiriman ke Turki dan Iran itu bukan ekspor, tetapi pembeli datang langsung ke pabrik saya dan dia yang mengapalkan. Itu sebabnya pembayarannya rupiah bukan dolar. Saya berharap dapat mengekspor, karena industri kerajinan saya dibantu para perajin Desa Brangkal dan dari daerah lain dapat memenuhi permintaan ekspor,” jelasnya.

Saat ini, sambung Widodo, di bengkel kerjanya bekas SD Inpres bobrok yang disewa dari Pemerintah Desa Brangkal, dipekerjanya rata-rata 25 orang perajin dengan upah Rp 50.000,- per orang per hari.

Para perajin itu, ditambah tidak kurang 30-an orang bekas karyawan yang menjadi perajin rumahan dan tersebar di Desa Brangkal, dapat menghasilkan 60-an jenis kerajinan.

“Di antara hasil kerajinan kayu, termasuk kerajinan fungsional seperti tempat tisu, tempat minuman kemasan dan sebagainya, miniatur yang paling diminati pembeli adalah Harley Davidson dan mobil-mobil kuna. Disain mainan itu tetap saya tiru dari mainan anak-anak dari plastik yang dijual di toko-toko. Saya belum pernah mencari disain di internet,” tutur Widodo lagi.

Seiring meningkatnya permintaan hasil kerajinan yang dipasarkan di obyek-obyek wisata, seperti Jogja dan Bali, Widodo tidak bisa lagi mengandalkan bahan baku limbah yang jumlahnya terbatas.

Source http://www.pikiran-rakyat.com http://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2015/06/23/332216/hasil-kerajinan-desa-brangkal-jadi-buruan-banyak-orang
Comments
Loading...