Kerajinan Miniatur Kapal Khas Puger Di Jember

0 288

Kerajinan Miniatur Kapal Khas Puger Di Jember

Penjara banyak memberikan pelajaran berharga bagi Ahmad Rofik.Dari balik jeruji besi inilah,dia menemukan dunia barunya:sebagai perajin miniatur Kapal khas Puger (Kapal Eder). Hasil berkualitas.Dan banyak ditemui disekitar TPI Puger.

Di teras rumahnya yang sederhana, Ahmad Rofik sedang memotongi ujung stick es krim yang sebelumnya dia beli dari pasar desa.”stick dan kayu pinus ini adalah bahan baku kerajinan miniatur kapal”katanya.

Dengan rajin dan telaten,potongan stick itu lantas dia panaskan dengan menggunakan sebatang korek api.Tujuannya,agar bentuknya bisa melengkung mengikuti kontur bentuk kapal.Baru kemudian,tiap ujung stick dia rekatkan dengan menggunakan lem kayu hingga membentuk miniatur kapal kecil.

Miniatur kapal made in pria 37 tahun asal Dusun Mandaran Satu, Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger ini sangat rapi dan bagus. Tak ada yang menyangkan, jika semua itu dia ciptaan berkat ketelatenan tangannya.

Ukuran miniatur kapal bikinan Ahmad Rofik pun bervariasi. Mulai dari 20 centimeter, hingga 40 centimeter, tergantung jenis kapalnya. Sehari-hari, dia dibantu oleh anak perempuannya yang masih berusia 10 tahun.

Terkadang keponakannya yang sesuai dengan putrinya tersebut juga ikut membantu. Namun anak-anak ini sebatas mengaplas kapal yang selesai dirakit Rofik. Biasanya, tiga minggu sekali Rofik mengirim kapal-kapalan yang sudah jadi ke salah seorang pemilik stand kerajinan di kompleks pantai Payangan. Disitulah tumpuan utama rofik untuk memasarkan hasil produknya. Dan dia baru dapat uang setelah barangnya laku terjual. “ini miniatur Kapal Eder, kapal khas nelayan Puger. Sekarang kapal jenis ini jarang kita temui. Soalnya jenis kapal ini tidak tahan saat terhempas angin,”ujar Roflik.


Kapal Eder merupakan kapal yang hanya ada di pantai Puger saja. Bentuknya melengkung pada kedua ujungnya, serta cembung dibagian badan kapal. Selain kapal Eder, Rofik juga membuat jukung-jukungan yang ukurannya relatif kecil dari miniatur kapal Eder. “Banyak juga jenis kapal besar lain yang saya buat miniaturnya,”jelas Roflik.

Menjadi seniman bikin miniatur kapal sebenarnya bukan passion Ahmad Rofik. Sebelumnya, dia seorang juragan kapal pencari ikan, yang biasa memperkerjakan para nelayan. Namun semenjak bebas dari lembaga Permasyarakatan Kelas II-A Jember, dia memilih jadi pengrajin kapal-kapalan. “Saya intensif bikin miniatur kapal ini sejak November 2016 lalu,”jelasnya.

Sebagaimana diketahui, selepas pecah kerusuhan sektarian di Puger pada medio 2013 lalu, ahmad Rofik ikut terseret ke Penjara. Dia ikut menghabiskan waktu selama 3,2 tahun lama ruang tahanan. Bahkan tahun pertama dalam tahanan, Rofik ditahan di Rutan Madaeng Surabaya sebelum akhirnya pindah ke Lapas Jember.

Nah, selama dalam lapas Jember itulah Rofik berkenalan dengan kerajinan kapal-kapalan yang ditekuninya hingga kini. Ceritanya, warga binaan di Lapas hampir saban hari mendapat pelatihan merangkai bunga dari pelatih yang ditunjuk pihak Lapas. rofik juga sempat mencicipi kegiatan itu. Namun, pada perjalanannya dia terpikir untuk membuat sesuatu yang beda.

Suatu ketika,di sela kesendiriannya di kamar lapas, Rofik merenung masuk kedunia masa lalunya. Dia merekonstruksi pengalamannya selama bertahun-tahun sebagai nelayan. Dari situlah ide membuat kapal-kapalan muncul.

Uji coba membuat kapal-kapalan pertama kali ia lakukan dengan memanfaatkan kardus sisa yang dipungutnya dari kompleks Lapas. Tidak ada desain yang bisa ia tiru di ruang tertutup itu. Ia membuat kapal-kapalan hanya berdasar ingatan lamat-lamat. “Akhirnya jadi, tapi jelek,”kata Rofik sambil tertawa cekikikan.

Lantas, salah seorang teman sekamar menganjurkannya untuk coba membuat kapal-kapalan serupa namun dari bahan stick es krim. Rofik menganggap usulan itu sebagai saran yang menarik.

Lantas dia menfaatkan jam besuk keluarganya,dengan memesan satu plastikbstick es krim. Dari bahan itulah, Rofik berinovasi membuat kapal-kapalan yang ternyata layak jual.”Ya mungkin ada faktor bakat jual.”tuturnya.

Dengan dibantu petugas Lapas,tiap kapal-kapalan yang selesai ia kerjakan lantas dipajang di ruang jenguk. Banyak pula keluarga napi yang datang memborong hasil kerajinan Rofik. “Ada yang membeli Rp 100 ribu,ada juga yang lebih. Tergantung mereka. Mereka bawa pulang sebagai oleh-oleh dari lapas,”jelas Rofik bangga.

Dari situ pula kemudia ia juga diminta petugas lapas untuk mengajari keterampilan serupa kepada warga binaan lain. hingga kemudian pada 2016,beberapa bulan menjelang ia bebas, tiga buah kapal karyanya sempat dikutkan oleh pihak Lapas pada acara kompetisi hasil kerajinan warga binaan tingkat nasional dijakarta.

“Kapal-kapalan diboyong ke Jakarta itu dinyatakan sebagai hasil kerajinan warga lapas terbaik nomor dua tingkat nasional,”jelasnya.

Untuk membuat kapal Eder misalnya, dia menghabiskan modal minimal Rp 50 ribu. Lantas dijualnya kapal-kapalan itu ke pasaran seharga Rp 100 ribu. Sedangkan, untuk jukung-jukungan yang ukurannya lebih kecil dari kapal Eder, Rofik menjualnya Rp 50 ribu. “Rata-rata harga jualnya 50 persen dari biaya pembuatannya. Soalnya bikinnya lama dan susah,”tutur Rofik.

Ia mengaku memerlukan waktu satu hari untuk menyelesaikan jukung-jukungan. Dan untuk kapal yang ukurannya lebih besar bisa selesai antara dua hingga tiga hari

Source http://radarjembernabilla.blogspot.co.id http://radarjembernabilla.blogspot.co.id/2017/03/ahmad-rofikmantan-narapidana-yang-alih.html
Comments
Loading...