Kerajinan Miniatur Mainan Di Desa Brangkal

0 304

Kerajinan Miniatur Mainan Di Desa Brangkal

Menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, dapat memberi dampak ganda bagi seseorang yang memiliki jiwa wirausaha kreatif. Pribadi itu dimiliki Slamet Widodo yang akrab dipanggil Widodo, seorang lelaki asal Desa Brangkal, Kec. Karanganom, Kab. Klaten, yang hasil karyanya berupa miniatur mobil klasik, sepeda motor, kereta api, pesawat terbang, kapal laut dan lain-lain, menjadi buruan banyak orang.

Sosok pribadi Widodo yang bersahaja, sekilas tidak menampakkan diri sebagai seorang kreator yang terampil menciptakan karya seni bernilai ekonomi tinggi.

Lelaki kekar berperawakan 170-an sentimeter itu, di tahun 1990-an termasuk salah seorang TKI di Timur Tengah dan pada 1997 memutuskan mengakhiri kontrak kerja untuk merintis usaha mandiri. Dengan modal Rp 5 juta yang dia sisihkan dari hasil bekerja di Timur Tengah, Widodo merintis usaha kerajinan kayu mainan anak-anak yang berbentuk miniatur mobil, motor dan lain-lain, dengan merk dagang “Shelly Handycraft” yang diambil dari nama anak perempuan pertamanya.

“Di daerah Klaten banyak limbah kayu dari industri mebel. Saya berpikir, limbah itu bisa dirangkai untuk membuat mainan anak-anak. Saya meniru bentuk mobil-mobilan mainan anak-anak sebagai model. Ternyata berhasil dan sekarang sudah berkembang menjadi 60-an model mainan anak-anak,” ujarnya kepada wartawan, di bengkelnya bekas bangunan SD Inpres, Desa Brangkal, akhir pekan lalu.

Pasar hasil kerajinan limbah kayu yang diciptakan Widodo, menurut ayah dua anak itu sudah merambah seluruh Indonesia. Bahkan, ada pembeli dari dua negara di Timur Tengah, yakni Turki dan Iran yang memesan hasil kerajinan “Shelly Handycraft” berupa miniatur motor Harley Davidson.

Pembeli dari Turki dua tahun terakhir mengapalkan satu peti kemas miniatur Harley Davidson per tahun senilai Rp 120 juta dan Rp 150 juta, serta pembeli dari Iran pada 2014 dua kali membeli langsung miniatur Harley Davidson seharga Rp 60 juta.

Saat ini, sambung Widodo, di bengkel kerjanya bekas SD Inpres bobrok yang disewa dari Pemerintah Desa Brangkal, dipekerjanya rata-rata 25 orang perajin dengan upah Rp 50.000,- per orang per hari. Para perajin itu, ditambah tidak kurang 30-an orang bekas karyawan yang menjadi perajin rumahan dan tersebar di Desa Brangkal, dapat menghasilkan 60-an jenis kerajinan.

Seiring meningkatnya permintaan hasil kerajinan yang dipasarkan di obyek-obyek wisata, seperti Jogja dan Bali, Widodo tidak bisa lagi mengandalkan bahan baku limbah yang jumlahnya terbatas. Dia kini beralih membeli kayu-kayu mahoni dan sonokeling dengan warna dan teksturnya yang unik, dari afkiran yang tidak diterima industir mebel. Risikonya, keuntungan Widodo menyusut karena harus mengikuti harga bahan baku yang sering mengalami kenaikan.

Widodo yang tetap setia menekuni kerajinan kayu, dalam perkembangannya juga menularkan kreativitasnya kepada adik-adik dan teman-temannya. Di antara mereka, ada yang menghasilkan kerajinan besi yang juga berbentuk miniatur, namun kebanyakan mengikuti jejak Widodo membuat kerajinan kayu.

Source http://www.pikiran-rakyat.com http://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2015/06/23/332216/hasil-kerajinan-desa-brangkal-jadi-buruan-banyak-orang
Comments
Loading...