Kerajinan Miniatur Motor Dari Limbah Elektronik Di Garut

0 416

Kerajinan Miniatur Motor Dari Limbah Elektronik Di Garut

Memanfaatkan limbah elektronik yang ada di kampungnya, Dicky Rifala mengubah sampah jadi miniatur motor. Lulusan SMK 1 Cibatu, jurusan Teknik Komputer Jaringan, anak kedua dari dua bersaudara tersebut tak habis akal meski hampir 2 tahun lamanya menganggur karena tak memiliki pekerjaan. Ide awal mengolah limbah elektronik jadi miniatur motor, karena melihat banyaknya barang rongsok elektronik di kampungnya yang tak terpakai dan terbuang begitu saja.

“Pas lulus sekolah, sempat kerja (serabutan) ikut tetangga. Melamar kerja, tapi ternyata susah cari kerja. Jadi lebih baik ngolah bahan limbah,” ucap dicky.

Di rumahnya yang terletak di Kampung Tanjung Garut RT 04 RW 02, Desa Cisaat, Kecamatan Campaka, Purwakarta. Sebuah ruangan yang terletak di dalam rumah kayu, dijadikan bengkel limbah elektronik untuk merakit motor. Dia menuturkan, dibutuhkan waktu sekitar 4-7 hari lamanya. Tingkat kerumitan untuk membuat miniatur motor ukuran kecil lebih sulit dibanding ukuran besar. Sebab dibutuhkan detail bahan limbah yang cukup sulit didapat.

Limbah elektronik yang digunakan biasanya adalah DVD, komputer, selang tabung gas, antena rusak, kawat, dan limbah lainnya. Kegiatan membuat miniatur motor, lanjut dia, baru dimulai sekitar dua bulan lalu. Menurut dia, sambil mencari pekerjaan, mengolah limbah dirasa menyenangkan.

“Lumayan sulit dapat bahan limbah elektroniknya, apalagi kalau butuh bagian-bagian kecil buat motor. Kalau sekarang manfaatkan limbah yang ada di sekitar. Bekas-bekas barang yang rusak, enggak terpakai juga dimanfaatkan,” katanya.

Dicky menuturkan, ayahnya yang mendorong dirinya untuk memanfaatkan limbah ketimbang menganggur dan menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tak berguna. Youtube, jadi rujukan awal sebagai sumber ilmu belajar secara otodidak. Sebelum memanfaatkan limbah elektronik, kaleng bekas jadi bahan percobaan pertama.

Dicky berharap prakarya dari limbah elektronik tersebut bisa dikembangkan jadi sebuah usaha yang mendulang hasil. Tak sampai disitu, jika nantinya membuka usaha miniatur motor, Dicky berharap bisa melanjutkan pendidikan. Karmita, ayahanda Dicky pun menuturkan, kesulitan mendapatkan pekerjaan lah yang mendorong dirinya untuk mengarahkan anaknya membuat sebuah karya. Dengan harapan kelak bisa jadi mata pencaharian.

“Lapangan pekerjaan sempit, latar belakang keluarga juga sulit mencari pekerjaan. Butuh uang untuk (menyogok) kerja, sehingga skill yang anak (punya) pun tidak bisa digunakan. Daripada susah cari kerja, akhirnya saya arahkan berkarya mengolah limbah. Minimal punya keinginan berkarya, menganggur tapi punya keahlian. Mudah-mudahan dari situ bisa memiliki usaha sendiri,” tuturnya. Dia menuturkan, belum banyak miniatur motor yang dibuat anaknya. Sebab hanya mengandalkan limbah yang didapat. Saat ini sekitar 7 miniatur motor yang dibuat anaknya.

“Saya motivasi bisa buat barang dari limbah. Mengubah pola pandang anak juga soal sampah, ternyata semua sampah kalau diolah berguna,” ucapnya.

Karmita menuturkan, melalui kerajinan tangan anaknya tersebut diharapkan bisa membawa kesuksesan di bidang apapun. Dia menyadari, saat ini persaingan kerja sangat sulit apalagi bagi anak tamatan sekolah menengah atas/sederajat. Memiliki keahlian, kata dia, jadi modal utama seseorang.

“Kreativitas mengolah limbah, diharapkan jadi jalan anak bisa sukses. Dengan berkarya, semua hal bisa,” ujarnya.

Source ww.pikiran-rakyat.com http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2017/04/06/ilmu-dari-youtube-dicky-ubah-limbah-elektronik-jadi-miniatur-sepeda-motor-unik
Comments
Loading...