Kerajinan Omprong Gandrung di Banyuwangi

0 439

Kerajinan Omprong Gandrung di Banyuwangi

Kesuksesan Banyuwangi melestarikan Tari Gandrung hingga dikenal dunia tak luput dari kiprah, Rajuli warga Desa Mangir, Kecamatan Rogojampi. Pria paruh baya ini adalah satu-satunya pembuat pakaian dan Omprok (Hiasan kepala atau mahkota) Tari Gandrung Banyuwangi.

Dia adalah generasi ke 7 yang mewarisi keahlian dan usaha dari nenek moyangnya tersebut. 7 Turunan keluarganya aktif di dunia Tari Gandrung, baik menari, membuat kostum penari, memainkan alat musik hingga membuat alat musik Gandrung seperti kendang. Kini berbagai keahlian itu juga ditularkan kepada cucu-cucunya.

“Saya belajar dari kakek. Cuma lihat saja. Kalau dulu kakek pakai paku untuk memahat ukiran omprok. Kalau saya pakai tata atau alat paha ini,” ujar Rajuli kepada detikcom, saat memamerkan kebolehannya di depan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Untuk bahan membuat Omprok, kata Rajuli, adalah kulit sapi yang dikeringkan. Kulit tersebut kemudian dibersihkan dan kemudian dipahat ukiran khas Banyuwangi. Selanjutnya, kulit tersebut dicat sedemikian rupa dengan warna keemasan, merah dan hitam. Ditambah lagi hiasan kembang goyang yang diatas omprok yang terbuat dari besi, juga dicat keemasan.

Sementara untuk pakaian Gandrung, Rajuli terlebih dahulu menjahit beberapa bagian kain untuk baju dan merajutnya dengan manik-manik warna-warni. Tak lupa dengan kain warna merah dan putih.

Untuk harga sebuah omprok, Rajuli membandrol Rp 500 ribu. Sementara untuk baju, seharga Rp 1 juta. Sementara untuk modal, dirinya membeli kulit sapi seharga Rp 200 ribu. Satu kulit sapi bisa menghasilkan sekitar 7 omprok dengan waktu pengerjaan selama 2 bulan. Sementara untuk modal baju, dirinya memodali untuk bahan sekitar Rp 500 ribu.

“Yang paling sulit itu memahat kulitnya, karena pahatan kecil dan detail. Biasanya orang pesan dulu. Selain di Banyuwangi pesanan datang dari Tuban, Jakarta dan daerah lain,” sambung Rajuli yang juga mengasuh sanggar Blambangan Art School (BAS).

“Dari bikin Omprog, seminggu kira-kira saya dapat hasil Rp 200 ribu. Tujuannya melestarikan kebudayaan,” pungkas pria yang mulai fokus membuat kostum Gandrung di tahun 1958 ini.

Sementara Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas Berterima kasih kepada Rajuli yang terus melestarikan pembuatan kostum Gandrung. Pemkab Banyuwangi sangat terbantu dengan adanya sosok Rajuli sebagai penerus generasi ke 7 pembuat kostum Gandrung. Pengrajin kostum Gandrung seperti Rajuli ini sudah menikmati sinergitas antara UKM dan kegiatan Banyuwangi Festival. Pesanan kostum Gandrung semakin banyak seiring dengan banyaknya event di Banyuwangi Festival.

Pemkab Banyuwangi saat ini masih getol terus melestarikan Tari Gandrung. Terbukti, hingga saat ini Pemkab Banyuwangi setiap tahun menggelar Gandrung Sewu. Tak hanya itu, Pemkab Banyuwangi selalu menyuguhkan tari Gandrung dalam berbagai acara atau event kegiatan Nasional maupun Internasional di Banyuwangi. Karena tarian ini adalah tarian pembuka.

“Kami berterima kasih kepada Pak Rajuli yang terus komitmen melestarikan baju khas Gandrung ini. Kalau tidak ada Pak Rajuli, pasti Gandrung Sewu tidak akan ada. Dan ini bentuk kegiatan UKM yang semakin bergeliat bersinergi dengan adanya Banyuwangi Festival,” ujarnya.

Source https://news.detik.com https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3495443/mengenal-generasi-ke-7-pembuat-omprog-gandrung-banyuwangi?_ga=2.142636341.1231937105.1524013499-1302190192.1524013499
Comments
Loading...