Kerajinan Pahat Kayu Karya Ibu-ibu Di Cianjur

0 256

Kerajinan Pahat Kayu Karya Ibu-ibu Di Cianjur

Pahat kayu tidak hanya dilakukan kaum bapak saja, ternyata ibu-ibu rumahtrangga warga Kampung Curwangi RT 01/02, Desa Sukatani, Kecamatan Haurwangi, tiap hari melaksanakan kerja ukiran kayu dengan mengunakan pahat, membuat pegangan Jejer pancingan (Hand Inacraft) dari bahan berbagai jenis kayu.

Pegangan Jeher, hasil produksi ibu-ibu tersebut, sepekan sekali dijual di Cianjur, Bogor, Sukabumi, Bandung dan kota lainnya, dengan harga borongan perbatangnya sangat fareatif mualia dari harga Rp 10 ribu Rp.15 ribu. Hingga ibu-ibu pngrajin tersebut, mampu mendapat upah senilai Rp.700 ribu  sampai Rp.800 ribu tiap minggunya.

Dikatakan Dedi Kurnia pemilik usaha pengrajin ukiran, mulanya usaha ukiran kayu berasala dari habi membuat ukiran untuk dipasang pada ornamen hiasan lemari ukir, liswar dan mebel lainnya, setelah encoba membuat pegangan Jejer pancinagn denga sedikit diukir, hingga banyak yang menginkan dan banyak pula yang memesan.

Dari situlah  mulai benak pikirannya untuk  mulai berbisnis pegangan Jejer pancingan dengan cara diukir dengan bergabagai betuk hiasan, kepala ular naga, kepala wayang golek dan bentuk kepala dinatang lainnya yang sekiranya bisa mnarik pandangan orang yang melihatnya. Setelah pesanan terus meningkat, hingga pihaknya melatih beberapa orang Ibu-ibu rumah tangga untuk memahat kayu yang telah dipola untuk pegangan Jejer pancingan.

Ternyata sekarang Ibu-ibu yang sudah bisa memahat kayu dan langsung menjadi mitra kerja sebanyak 12 orang, yang tiap orangnya mampu memproduksi 30 batang pegangan Jejer pancingan tiap harinya yang dihargai tiap batanganya senilai Rp.3 ribu, satu orang bisa mengantongi uang Rp 90-Rp120 tiap harinya.

Pegangan Jejer pancingan yang diproduksi ibu-ibu, seminggu sekali dijual ke tengkulak di Sukabumi, Bogor, Cianjur dan Bandung, dengan permintaan pasar cukup tinggi hingga pihaknya kewalahan, karena tidak terladeni order yang tiap bandar meminta dikirim. Kendalanya hany mengenai dana untuk memberi upah para pengrajin yang telah dibina dan mungkin perlu penambahan mitra kerja Ibu-ibu pengrajin, ucapnya.

Tentu saja semua itu, perlu adanya dukungan dari pihakPemerintah Kabupaten, Provinsi maupun Pemerintahan Pusat, karena potensi Desa Sukatani perlu dikembangkan yang nantinya akan mampu untuk mensejahtrakan seluruh warga Desa setempat, ucapnya. Dilain pihak, salah seorang pengrajin ukran pengangan Jejer pancingan Neng Asmi menjelasdkan, memahat kayu membuat pegangan Jejer pancingan tiaphari baru mampu mendapat 30 batang dan tiap batangnya  dihargai pemilik perusahan  Rp,3 ribu, semua itu dilakukan  dirumah masing–masing, karena bekerjanya setelah cuci pakain pada pagi hari. Hingga pekerjaan memahat kayu ukiran bisa sambil masak nasi dan sambil ngasuh anak, di rumahnya masing masing, setelah sore hasilnya baru disetorkan pada pemiliknya dan hasinya juga sangat pareatif  ada yang mampu menyelesaikan 20, 30 ada pula yang sudah mendapat 40 batang tiap harinya, ucapnya.

Source https://suarajabarbantencom.wordpress.com https://suarajabarbantencom.wordpress.com/2016/11/20/menjadi-pengrajin-ukiran-mampu-membatu-usaha-suami/
Comments
Loading...