Kerajinan Panamba Di Buton

0 437

Kerajinan Panamba Di Buton

Sejak zaman dahulu hingga saat ini, Kesultanan Buton telah banyak mewariskan benda-benda budaya dan aneka macam kerajinan tradisional yang sangat indah dan menawan. Salah satu karya kerajinan tersebut adalah PANAMBA (tudung saji) yang biasa digunakan oleh masyarakat Buton sebagai penutup talang haroa. Kerajinan tradisional yang populer dan telah mendunia ini, diproduksi oleh Saliya warga Kelurahan Melay, Kecamatan Murhum Kota Baubau.

Panamba sering digunakan oleh masyrakat Buton sebagai sajian penutup makanan dalam berbagai gelaran adat dan budaya, seperti halnya haroa, pekakande kandea, dan pesta adat masyarakat kadie dalam wilayah Kesultanan Buton. Saat ini pemanfaatan panamba tidak hanya digunakan pada saat prosesi gelaran budaya saja, melainkan juga tela digunakan dalam suasana rapat, seminar dan diskusi publik dikantor kantor maupun di sekolah dan universitas.

“Panamba yang saya buat, ada 4 ukuran yakni ukuran besar, sedang, kecil dan yang paling kecil ukuran piring” ujar wanita paruh baya yang mengaku telah melakoni aktifitas merajut panamba sejak masih remaja. Adapun bahan dasar yang digunakan untuk pembuatan panamba adalah daun kelapa tua dan kulit pisang kering, “Biasanya dalam satu satu minggu saya dapat memproduksi 3 sampai 5 buah panamba” ujarnya sambil menambahkan dari hasil kerajinan itupula, dirinya mampu membiayai kebutuhan keseharian keluarganya.

Dikatakan Saliya, saat ini, pamamba hasil kerajinannya, telah menjadi karya kerajinan tradisional kebanggaan masyarakat Sulawesi Tenggara, karena telah terkenal diseantero Nusantara dan bahkan dunia. “Alhamdulilah, panamba hasil karya saya ini, sudah banyak yang memesan, mulai dari orang-oroang propinsi hingga orang pusat di Jakarta, mereka langsung datang pesan disini, biasanya mereka itu dari Dekranas artis artis dan juga para turis yang datang berkunjung disini” tuturnya dengan senyumannya yang khas.

Kemudian lanjut Saliya, harga yang ditawarkan pun sangat berfariasi, mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 350.000 ribu rupiah” Kalau panamba besar, harganya Rp 350.000, yang sedang harganya Rp 250.000, yang kecil harganya Rp 200.000 dan yang ukuran piring harganya Rp 100.000″ ungkap Saliya sambil menambahkan panamba buatannya dapat bertahan hingga puluhan tahun sepanjang tempat penyimpanannya aman dari ganguan kutu dan rayap.

Dirinya pun menjelaskan, alat dan bahan yang digunakan dalam proses kerajina terseubut adalah daung kelapa kering, kulit batang pisang yang dikeringkan, kaid beludru, manik-manik, jarum, gunting, pisau, plastik bening, parang dan benang jahit, “Pertama itu kita rangkai dulu bentuknya kemudian, sudah terbentuk lalu ditutup pake kain beludru warna merah lalu diberi manik-manik khas Buton” ujarnya sambil menambahkan alat dan bahannya sangat mudah diperolah dipasar-pasar tradisional di Kota Baubau.

Namun dirinyapun tidak menampik bahwa, hingga saat ini pemesanan produk kerajinan buatannya sangat rendah, dan han tersebut merupakan kendala utama dalam memasarkan hasil produksi kerajinan tersebut “masalahnya ini, pemesanan kurang, kecuali pada saat menjelang hari raya baru ada ada banyak yang pesan lagi,” Katanya, menurut dia, harus ada perhatian pemerintah untuk menopang tumbuh dan berkembangan kerajinan tradisional tersebut, “Kalau ada  modal dari pemerintah, itu lebih baik” katanya saat ditemui diselasela kegiatannya.

Source https://www.kompasiana.com https://www.kompasiana.com/vorilfrens/55ca117f84afbd3d0d58e592/panamba-kerajinan-tradisional-yang-mendunia
Comments
Loading...