Kerajinan Pandai Besi Di Jember

0 413

Kerajinan Pandai Besi Di Jember

Tidak banyak pengrajin peralatan besi yang masih menggunakan cara-cara tradisional dalam proses produksinya. Namun di Rayap, Patrang, terdapat salah satu pengrajin besi atau pandai besi yang masih menggunakan peralatan sederhana untuk menghasilkan beragam peralatan.

Pukulan besi beradu pasak terdengar menggema di salah satu gubuk kayu, tepat di pinggir ruas jalan Kemuning Lor, Patrang. Suaranya seakan menjadi senandung irama, mengalun teratur tanpa ada ruang membuat kesalahan di dalamnya. Tiga palu besar saling bergantian dipukulkan pada sebilah besi panas, hingga tampak bentuk celurit yang umum di masyarakat.

Di dalam gubuk berukuran sembilan meter persegi tersebut, tiga pria paruh baya serius menekuni aktivitas masing-masing. Ajib, yang tertua dari ketiganya, memanaskan bilah besi di atas perapian yang menyala. Sementara Mustafa di sebelahnya bertugas untuk menyalakan api, sembari bersiap memegang palu, untuk membentuk bilah besi. Sedangkan pria ketiga yang akrab disapa Pak Im, menghaluskan permukaan celurit yang sudah terbentuk sempurna menggunakan gerinda. Proses ini biasanya memakan waktu kurang lebih setengah jam untuk membuat satu celurit.

Ajib mengaku sudah menjadi pengrajin pandai besi sejak lebih dari 30 tahun lalu. Meski usianya kini sudah lebih dari 50 tahun, fisiknya sama sekali tak tampak lelah dalam mengerahkan tenaga membentuk bilah besi tersebut. Malah, sembari bekerja, dirinya tak pernah berhenti bercanda.

Sejak menjadi pandai besi, sudah beragam peralatan yang muncul dari tangan terampilnya. Kebanyakan adalah peralatan pertanian, yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. “Tidak hanya masyarakat sini saja tapi banyak juga yang datang dari kota,” lanjutnya.

Dalam satu hari, biasanya Ajib membuat celurit hingga 16 buah. Per celurit dihargai sekitar Rp 30 ribuan. Sedangkan untuk peralatan lain seperti cangkul, pisau, dan linggis dihargai mulai Rp 25 ribuan. “Yang paling mahal, pernah membuat semacam cakram dan piso mbako (pisau tembakau), harganya bisa sampai Rp 200 ribu,” terang pria tersebut.

Tidak ada waktu khusus dimana pemintaan melonjak. Menurut Ajib, dirinya selalu mengirim pesanan dengan jumlah konstan ke berbagai daerah, salah satunya di Sempolan. “Kadang-kadang ada juga yang datang langsung ke sini,” imbuhnya.

Meski lokasinya di pelosok, namun ada saja yang datang ke tempat tersebut. Banyak juga pelanggan yang memilih membeli langsung di pandai besi ketimbang di tempat lain. “Katanya kalau di tempat lain nggak landep (tidak tajam). Nggak tahu juga kenapa, mungkin bisa dari bahan bakunya atau proses pembuatannya,” ujar Pak Im.

Bahan bakunya didapat dari daerah Gebang, yaitu besi-besi dan plat baja. Biasanya Ajib memesan bahan mentah sebanyak setengah kuintal, dan bisa dipakai hingga lebih dari satu bulan. Dengan semangat, Ajib dan Pak Im menunjukkan proses pembuatan celurit tersebut. “Nanti dari potongan besi ini dipanaskan, lalu dipukul-pukul sampai pipih. Selanjutnya dihaluskan dan dibentuk pegangannya,” terangnya sembari menunjukkan proses tersebut secara visual.

Setelah bentuk celurit tersebut jadi, maka tugas Pak Im untuk menghaluskannya. Berbeda dengan proses zaman dulu yang menggunakan penghalus manual, kini mereka mulai melakukan modernisasi. Pak Im menggunakan gerinda listrik untuk menghaluskan permukaan celurit. Begitu pula dengan bara api yang juga dinyalakan dengan menggunakan blower.

Modernisasi sederhana ini sudah dilakukan Ajib dan Pak Im sekitar tiga tahun lalu. Menurutnya, kalau masih memakai tangan saja, prosesnya akan menjadi lebih lama. “Kalau nggak begitu nggak bisa cepat jadi,” imbuh Pak Im. Profesi ini dilakukan Ajib dan Pak Im hampir setiap hari. Jika pegawai kantoran umumnya libur di hari Minggu, mereka meliburkan diri setiap hari Jumat. “Khusus hari Jumat kita libur. Kalau ada pesanan pun kita selalu bilang kalau Jumat libur,” tegasnya.

Memasuki era jaman now yang penuh dengan modernisasi, Ajib tak menampik jika hal tersebut memang dibutuhkan untuk bisa bertahan dalam melakoni profesinya. Namun baginya, yang lebih penting adalah kemunculan generasi berikutnya yang menjadi penerus. Karena itu dirinya mengajak Mustafa untuk belajar menjadi generasi penerus pandai besi.

Mustafa sendiri sudah ikut bapaknya sejak masih kecil, sehingga aktivitas pandai besi ini sudah tak asing lagi dalam hidupnya. Dari tiga putra Ajib, hanya Mustafa lah yang mengikuti jejak sang ayah. Kedua saudaranya lebih memilih bekerja di kota daripada melanjutkan bisnis keluarga tersebut. “Soalnya banyak yang nyari, kalau nggak ada generasi penerusnya nanti siapa yang mau buat celurit,” ujar Mustafa ketika ditanya.

Source https://www.ucnews.id https://www.ucnews.id/news/Menengok-Proses-Pembuatan-Peralatan-dari-Tangan-Pandai-Besi-Tradisiona/4250700495315572.html
Comments
Loading...