Kerajinan Pandai Besi Di Kep. Selayar

0 277

Kerajinan Pandai Besi Di Kep. Selayar

Kerajinan pandai besi (dalam bahasa lokal disebut, papanre bassi), adalah sebuah industri rumah tangga warga Dusun Tajuia, Desa Bungaiya, Kecamatan Bontomate’ne, Kabupaten Selayar. Profesi ini merupakan hampir satu-satunya sumber pemasukan warga kampung selain bertani dan beternak kambing. Berbekal tenaga yang lumayan berat, sebagian besar masyarakat kampung bergelut menghadapi kerasnya besi dan panasnya api, serta semburan debu dari proses pembakaran yang menggunakan arang tersebut.
Baso Lolo, seorang pengrajin yang sudah mulai aktif dalam pekerjaan tempah menempah besi ini sejak tahun 1954 menjelaskan, “Kita sudah tidak tau dari kapan. Kerajinan ini sudah turun temurun dari nenek moyang. Dan dari nenek moyang dahulu, sampai saat sekarang ini, metode dan perkakas yang dipakai tidak pernah mengalami perubahan”.
Dengan berbahan baku potongan besi seperti per mobil bekas, mereka bisa mengubahnya menjadi parang, pisau, pedang dan lain-lain produk besi, hanya bermodalkan sebuah tungku untuk memanasi besi yang dihembusi angin secara manual terus-menerus oleh seorang tukang pompa. Disamping itu, palu besar dan alat pemotong besi yang mereka buat sendiri, serta besi besar sebagai landasan menempah menjadi perkakas utama mereka.
Ketika kami menanyakan, produk apa saja yang bisa mereka hasilkan, dengan spontan Baso Lolo menyahut, “Alat-alat apapun bisa, termasuk kapak, cangkul, bahkan sampai pedang yang panjangnya satu meter-an. Hanya saja, makin rumit alat yang mau dibuat, makin panjang waktu yang dibutuhkan”. Pengakuan mereka memang sulit dipercaya, berhubung alat yang mereka pakai pun sangat sederhana, dan semua serba manual. Demikian juga teknologi yang mereka terapkan, tidak pernah beranjak dari peninggalan nenek moyang yang entah dari zaman apa. Dan anehnya, kerajinan ini, hanya dilakoni oleh warga Dusun Tajuia, di tempat lain di daerah Selayar, tidak ada yang bisa menirunya. Kalaupun ada pengrajin di daerah lain, hampir pasti, mereka adalah warga dusun Tajuia yang merantau ke kampung tersebut.
Untuk mulai beraktifitas, pekerjaan pandai besi butuh personel 3 orang yang masing-masing punya peranan yang tidak bisa dirangkap. Kalau tidak cukup 3 orang, kegiatan tidak bisa dimulai. Pembagian peranan meraka adalah, satu orang sebagai tukang pompa, satu orang pimpinan yang memimpin proses produksinya, dan seorang lagi sebagai tukang tempah utama, yang berperan menempah besi yang masih bulat menjadi tipis dan berbentuk, di bawah arahan pimpinan. Pada saat kami mengunjungi tempat Baso Lolo yang bertindak sebagai pimpinan tim, ditemani oleh H. Hajo sebagai tukang pompa, dan Ma’nassa sebagai tukang tempah.
Rata-rata aktifitas mereka dimulai jam 08:00, dan berakhir jam 16:30-an, diselingi istirahat siang selama sekitar satu jam. Menurut penjelasan Baso Lolo kepada Selayar Dotcom, seharian bisa menghasilkan rata-rata 12 batang parang mentah berukuran sedang. Parang mentah itu yang dihaluskan memakai kikir, lalu dimatangkan(istilah mereka: sappo), sehingga ujungnya tidak gampang aus. Setelah matang, tinggal diberi pegangan yang rata-rata terbuat dari kayu, lalu diasah. Setelah melalu proses itu, hasil kerajinan mereka baru bisa digunakan.
Kerajinan ini cukup menyerap banyak tenaga kerja. Disamping tenaga pemasaran, juga terbuka peluang lapangan pekerjaan sampingan di bidang penghalusan parang mentah (pengikiran), dan pembuatan pegangan (pangulu) serta sarung parang (Banoa). Belum lagi kerajinan ini membutuhkan sekitar 1 karung arang perharinya tiap tim yang berproduksi. Sehingga kerajinan pembuatan arang, sudah merupakan sebuah kebutuhan mutlak sebagai pekerjaan turunan dari kerajinan pandai besi ini.
Source http://awalinfo.blogspot.com http://awalinfo.blogspot.com/2014/06/menengok-aktivitas-pandai-besi.html
Comments
Loading...