Kerajinan Pandai Besi Di Malang

0 609

Kerajinan Pandai Besi Di Malang

Perajin cangkul dan alat pertanian atau Pandai Besi semakin tersisih oleh zaman yang serba modern dan industrialisasi. Karyanya tertindas oleh barang pabrikan yang dapat diproduksi massal, masif dan lebih murah. Di beberapa sudut Kota¬†Malang, masih bisa ditemukan aktivitas para pandai besi. Tetapi keberadaannya seperti ‘hidup segan mati tak mau’ dengan aktivitas ala kadarnya.

Salah satunya pandai besi ‘Penerimane Pandum’ di Jalan Mayjend Sungkono Kedung Kandang, Kota Malang. Pandai besi milik Mulyadi itu beroperasi hanya ketika datang pesanan dari para petani sekitar wilayahnya, itu pun dengan jumlah satuan. Mulyadi sudah tidak lagi mampu memproduksi cangkul lagi, dan benar-benar pasrah seperti arti terkandung dalam nama ‘Penerimane Pandum’. Karena memproduksi cangkul butuh biaya besar dan pemasaran hasil produksi.

Penerimane Pandum menempati pojok tanah lapang dengan bangunan seadanya. Mulyadi baru beberapa tahun terakhir menempati lokasi tersebut. Sementara adiknya, Muhammad Shoheh tetap beroperasi di pande warisan nenek moyangnya di lokasi tidak jauh dari milik Mulyadi. Nenek Mulyadi, Mbah Sumo mendirikan pande sejak 1913.

Beberapa anak dan cucunya secara turun-temurun menjadi seorang pandai besi, temasuk Mulyadi dan Muhammad Shoheh. Tetapi baik Mulyadi maupun Muhammad Shoheh sudah tidak membuat cangkul lagi. Mereka membuat aneka peralatan berbahan besi dan paling banyak dilayani belakangan ini adalah sabit atau clurit dan pisau. Selain itu, yang paling rutin adalah service dan penyepuhan cangkul petani.

Biasanya para petani membawa cangkulnya untuk diservis karena dirasa sudah tidak tajam lagi. Cangkul tersebut oleh Mulyadi akan ditambah bajanya di ujung-ujung cangkul agar kembali tajam. Service cangkul dikenakan tarif Rp 20 ribu atau tergantung tambahan baja dan besinya. Tetapi tidak jarang, para petani membeli cangkul baru kemudian disepuhkan agar lebih tajam.


“Biasanya petani pengarap itu alatnya bagus-bagus. Beli pacul yang harga Rp 150 ribu, kemudian disepuhkan. Beberapa juga pasrah untuk sekalian dibelikan cangkulnya,” katanya. Setiap bulan Mulyadi menerima sekitar 8 sampai 10 orang yang membetulkan cangkulnya. Sementara lebih banyak orang yang membuat sabit atau celurit.

Kata Mulyadi, cangkul maupun sabit yang di pasaran dibuat dengan lebih banyak unsur besinya. Sehingga harganya lebih murah berkisar antara Rp 35 ribu sampai Rp 40 ribu, tetapi saat dipakai sering ‘mulet’ atau tidak lurus. Penyepuhan dilakukan untuk menambah unsur baja ke dalam besinya. Caranya dibakar dengan suhu tinggi, kemudian besi dan baja dilebur dengan dipukul-pukul secara berulang-ulang.

“Kalau untuk membuat sabit cukup 2 jam. Harga bajanya Rp 25 ribu per batang. Besi putihnya Rp 100 ribu per kilogram. Harga sabitnya dijual Rp 100 ribu,” katanya.

Purnomo, karyawan Mulyadi mengungkapkan, untuk membuat cangkul butuh biaya besar, tetapi belum tentu laku di pasaran. Kabanyakan orang akan memilih cangkul pasaran yang lebih murah, apalagi sekadar untuk bersih-bersih rumah.

Selain itu, bahan besi dan baja yang mahal bahkan sulit didapatkan di pasaran. Mereka biasanya memanfaatkan kikir (pengasah) dengan bahan baja murni digunakan sebagai bahan untuk menyepuh. Baik Mulyadi maupun Purnomo mengaku tidak pernah lagi terpikir untuk memproduksi cangkul. Karena dirasa sudah tidak mungkin untuk bersaing dengan cangkul di pasaran buatan pabrik, bahkan impor dari China.

Keduanya juga mengaku tidak memiliki lagi penerus untuk melanjutkan ketrampilan sebagai pandai besi. Anak-anak mereka sudah memilih mencari nafkah di bidang lain.

Source https://www.merdeka.com https://www.merdeka.com/peristiwa/menengok-aktivitas-pandai-besi-di-tengah-gempuran-barang-pabrikan.html
Comments
Loading...